KUDUS, Kaifanews – Pemerintah Kabupaten Kudus terus mendorong penguatan ekosistem UMKM berbasis digital, Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton menghadiri kegiatan Sambut Kota Masa Depan Kudus Berani Digital di Pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (19/12/2025).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kudus, Kementerian UMKM RI, dan Grab Indonesia dalam mendorong transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kami apresiasi dan berterima kasih kepada Kementerian UMKM RI dan Grab Indonesia dalam mendorong transformasi digital di Kabupaten Kudus sebagai bekal penting bagi UMKM agar tumbuh dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkap Wabup Bellinda.

Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton, menyampaikan bahwa Kudus adalah rumah bagi lebih dari 18.000 UMKM yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Program ini bertujuan untuk membantu Pemerintah Pusat dalam mencapai target 30 juta UMKM terdigitalisasi di tahun 2025.

Senada dengan hal tersebut, CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyampaikan program ini telah mendampingi sekitar 200 ribu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di 16 kota seluruh Indonesia.

“Yang diajarkan meliputi digitalisasi usaha, pemasaran, serta praktik-praktik untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan,” ungkap Neneng.

Pemerintah terus mendorong adopsi teknologi oleh UMKM salah satunya dengan mengadakan berbagai macam pelatihan dan pendampingan yang bertujuan memfasilitasi UMKM agar terintegrasi dalam ekosistem digital dan mampu meningkatkan tren penjualan yang positif.

Dengan semakin banyaknya dukungan terhadap UMKM dapat menguatkan ekonomi akar rumput, karena UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB Indonesia dan menyerap 97% tenaga kerja.

Mewakili Grab Indonesia, Neneng berharap program ini dapat membuka peluang penghasilan untuk terus menghidupkan UMKM di Kabupaten Kudus.

Neneng menyampaikan alasan dipilihnya kabupaten Kudus sebagai kota ke-16 adalah karena Kudus memiliki karakter industri padat karya serta budaya lokal yang unik dan berakar kuat.

“Kami sangat mendukung UMKM pasar dan usaha-usaha lokal. Program Kota Masa Depan Kudus Berani Digital membuka peluang penghasilan yang lebih inklusif, termasuk bagi perempuan, ibu rumah tangga, dan mitra pengemudi Kami,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Usaha Kecil Kementerian UMKM RI, Temmy Setya Permana, menyinggung soal preferensi utama masyarakat dalam era digital.

Ia menerangkan dua hal preferensi tersebut yakni kualitas dan harga. “Pertama adalah kualitas, dan yang kedua adalah harga,” ungkapnya.

Masyarakat secara umum tidak memperhatikan secara detail apakah produk itu berasal dari lokal atau impor. Temmy menilai “Hal ini perlu menjadi perhatian, karena kemajuan teknologi harus diiringi dengan kesadaran konsumen terhadap produk lokal,” terangnya.

Temmy Setya Permana, ingin membangun kesadaran dan mengajak masyarakat untuk selalu bangga dan membeli produk lokal, ditengah produk impor yang membanjiri Indonesia saat ini.

Produk lokal tidak kalah dengan produk impor benar adanya, terlihat dari semakin meningkatnya kualitas, inovasi, dan penerimaan pasar, didukung oleh tren masyarakat yang sadar akan identitas bangsa dan dampak ekonomi, meski tantangan seperti stigma, regulasi, dan persaingan harga masih ada.

Banyak produk lokal seperti Indomie, Kopiko sudah mendunia, menunjukkan potensi besar, dan konsumen semakin memilih produk lokal karena kualitas, keunikan, ramah lingkungan, serta dukungan terhadap UMKM, didukung promosi digital yang sangat kuat. (IND)