JAKARTA, Kaifanews – Sejarah baru tercipta bagi industri perbankan syariah tanah air. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) secara resmi menyandang status sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Persero. Perubahan status ini disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Senin (22/12/2025), menyusul persetujuan negara atas kepemilikan Saham Seri A Dwiwarna.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dengan status baru ini, BSI kini setara dengan jajaran bank plat merah lainnya dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Langkah ini diharapkan menjadi akselerator utama bagi Indonesia untuk mewujudkan ambisi sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

Lonjakan Kinerja Keuangan 2025

Perubahan status ini dibarengi dengan performa finansial yang sangat impresif. Berdasarkan laporan kinerja kuartal III-2025, BSI berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp5,57 triliun, tumbuh 9,04% secara tahunan (year on year/yoy).

Kekuatan aset BSI juga semakin solid dengan total mencapai Rp417 triliun, meningkat 12,37% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menempatkan BSI sebagai salah satu dari lima bank terbesar di Indonesia berdasarkan total aset.

Data Vital Kinerja BSI (Hingga September 2025):

  • Pembiayaan: Tumbuh 12,65% menjadi Rp301 triliun.

  • Dana Pihak Ketiga (DPK): Mencapai Rp348 triliun dengan porsi dana murah (CASA) sebesar 59,48%.

  • Kualitas Aset: NPF Gross terjaga sangat rendah di level 1,84%.

  • Nasabah: Mencapai 22,6 juta pengguna di seluruh Indonesia.

Tiga Pilar Strategi Ekonomi Syariah

Pasca menyandang status Persero, manajemen BSI telah menyiapkan peta jalan strategis untuk memperkuat ekosistem halal nasional. Strategi ini difokuskan pada tiga pilar utama:

  1. Penguatan Halal Value Chain: BSI akan mengintegrasikan pembiayaan dari hulu ke hilir, mulai dari sektor pertanian, industri makanan halal, hingga pariwisata ramah muslim.

  2. Akselerasi Digital Melalui BYOND: Transformasi digital menjadi kunci dengan pengembangan super-app BYOND by BSI yang kini telah digunakan oleh jutaan nasabah untuk transaksi perbankan sekaligus kebutuhan ibadah.

  3. Literasi dan Inklusi: Menargetkan peningkatan pangsa pasar perbankan syariah nasional yang saat ini berada di kisaran 12-13% agar terus tumbuh secara progresif.

Ekspansi Global ke Tanah Suci

Tidak hanya jago kandang, BSI juga memperkuat kuku di kancah internasional. Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengonfirmasi bahwa izin operasional cabang penuh di Jeddah, Arab Saudi, telah dikantongi. Cabang ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II-2026 untuk melayani ekosistem haji dan umrah serta diaspora Indonesia.

“Menjadi BUMN Persero bukan sekadar perubahan status hukum, melainkan tanggung jawab besar untuk membawa ekonomi syariah Indonesia menjadi kompas bagi industri halal global,” ungkapnya. (Jee)