Kaifanews – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa situasi di Iran menunjukkan tanda-tanda penurunan eskalasi, menyusul tindakan keras pemerintah Teheran terhadap gelombang demonstrasi nasional. Dalam pernyataannya pada Rabu, Trump mengatakan ia memperoleh informasi bahwa kekerasan terhadap pengunjuk rasa mulai berkurang dan menyebut tidak ada indikasi rencana eksekusi massal dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Gedung Putih, di tengah meningkatnya kekhawatiran regional bahwa Amerika Serikat dapat melancarkan aksi militer terhadap Iran. Meski menilai situasi tampak lebih terkendali, Trump menegaskan bahwa opsi intervensi militer tetap berada di atas meja dan akan bergantung pada perkembangan di lapangan.
Peringatan Risiko Intervensi
Sejumlah analis kebijakan luar negeri dan diplomat kawasan memperingatkan bahwa keterlibatan militer AS justru berpotensi memperburuk situasi. Menurut mereka, serangan dari Washington bisa menghentikan momentum protes, memicu represi yang lebih keras, serta membuka peluang serangan balasan Iran terhadap kepentingan militer AS di Timur Tengah.
Dalam skenario terburuk, intervensi militer dinilai dapat mempercepat keruntuhan pemerintahan Iran tanpa adanya struktur transisi yang jelas. Hal ini berisiko menciptakan kekacauan di negara berpenduduk sekitar 90 juta jiwa tersebut, termasuk potensi pemberontakan oleh kelompok separatis Kurdi dan Baluch serta lemahnya pengawasan terhadap program nuklir dan persenjataan rudal Iran.
Penilaian Intelijen AS
Meski tekanan domestik di Iran dinilai sangat serius, sejumlah penilaian intelijen Amerika Serikat pada awal pekan ini menyimpulkan bahwa rezim Iran belum berada di ambang kejatuhan. Empat sumber yang mengetahui laporan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Teheran masih mempertahankan kendali atas situasi dalam waktu dekat.
Analis dari Foundation for the Defense of Democracies, Behnam Ben Taleblu, menyatakan bahwa ketidakstabilan Iran mencakup berbagai faktor risiko sekaligus, mulai dari konflik etnis, keberadaan bahan nuklir yang tidak terdeklarasi, hingga persenjataan rudal yang tersebar luas. Menurutnya, perubahan rezim secara mendadak justru dapat mempercepat munculnya berbagai krisis tersebut.
Protes Terbesar Sejak 1979
Aksi protes yang meletus sejak 28 Desember disebut sebagai tantangan domestik paling serius bagi pemerintahan ulama Iran sejak Revolusi Islam 1979. Demonstrasi besar-besaran menuntut penggulingan pemerintah telah memicu bentrokan sengit dengan aparat keamanan.
Seorang pejabat Iran menyebutkan lebih dari 2.000 orang tewas sejak protes dimulai, sementara kelompok hak asasi manusia memperkirakan korban meninggal telah melampaui 2.600 jiwa. Sejumlah pengamat meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Hingga berita ini diturunkan, baik Gedung Putih maupun misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.
Ketegangan di Kawasan Teluk
Trump menyebut bahwa informasi yang ia terima berasal dari “sumber penting di pihak lawan” dan menyatakan AS akan terus memantau situasi. Ia juga mengungkapkan bahwa Washington menerima sinyal positif dari Teheran, meski tidak merinci bentuk komunikasi tersebut.
Di kawasan Teluk, sejumlah pemerintah Arab dilaporkan cemas terhadap kemungkinan eskalasi konflik. Seorang diplomat regional mengatakan negara-negara Teluk terus mendorong Washington dan Teheran untuk menahan diri guna mencegah perang terbuka.
Kekhawatiran tersebut meningkat setelah AS mulai menarik sebagian personelnya dari kawasan, menyusul pernyataan pejabat senior Iran yang menyebut negara-negara tetangga telah diperingatkan bahwa pangkalan AS bisa menjadi sasaran balasan.
Perbedaan Pandangan Oposisi Iran
Tidak semua pihak menentang potensi serangan AS. Abdullah Mohtadi, pemimpin Partai Komala Kurdistan Iran, menilai hanya tekanan militer signifikan dari luar yang dapat menghentikan kekerasan terhadap warga sipil. Ia menolak anggapan bahwa intervensi akan memicu separatisme luas dan menyatakan kelompok oposisi siap bekerja sama membangun pemerintahan demokratis pasca-rezim ulama.
Trump sendiri enggan membeberkan langkah konkret yang akan diambil. Namun, seorang sumber menyebut para pembantunya tengah mengkaji sejumlah opsi, termasuk serangan terbatas ke target militer tertentu.
Dilema Kredibilitas Washington
Para pengamat menilai, setelah berulang kali mengancam akan bertindak, Trump menghadapi dilema strategis. Jika tidak menindaklanjuti ancamannya sementara penindasan berlanjut, kredibilitas Washington bisa dipertanyakan.
Menurut Taleblu, efektivitas kebijakan AS sangat bergantung pada jenis target yang dipilih. Sementara itu, Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies menyarankan pendekatan alternatif seperti pembatasan aliran dana Iran dan serangan siber untuk memberi ruang bagi protes berkembang tanpa eskalasi militer langsung.
Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa AS akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran, melanjutkan kebijakan pascaserangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, sekaligus mengirimkan pesan tegas kepada lawan-lawan Washington bahwa penggunaan kekuatan militer tetap menjadi opsi nyata.








