JAWA TENGAH, Kaifanews — Momentum belanja daring nasional 12.12 yang biasanya dipenuhi diskon besar dan perang harga di marketplace, justru tidak sepenuhnya dirasakan pelaku UMKM di Jawa Tengah. Alih-alih kebanjiran pesanan dari platform besar, banyak UMKM mengaku transaksi justru lebih ramai terjadi di grup-grup WhatsApp.
“Di marketplace sepi, tapi di WhatsApp malah banyak yang pesan,” ujar Rina, pelaku UMKM makanan kering asal Semarang.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran pola jual beli digital yang belum banyak disorot.
Marketplace Ramai, UMKM Terpinggirkan
Pelaku UMKM menilai momen 12.12 di marketplace nasional kini didominasi brand besar, penjual bermodal kuat, serta produk impor berharga murah. UMKM lokal sulit bersaing dalam perang diskon, ongkir subsidi, dan iklan berbayar.
“Kalau ikut diskon besar, marginnya habis. Kalau tidak ikut, tenggelam,” kata pelaku UMKM fesyen dari Solo.
Akibatnya, banyak UMKM memilih tidak mengandalkan marketplace saat tanggal kembar, termasuk 12.12.
WhatsApp Jadi Pasar Utama
Sebaliknya, grup WhatsApp—baik komunitas warga, arisan, alumni, hingga pelanggan loyal—menjadi kanal penjualan yang justru lebih hidup. Transaksi terjadi berbasis kepercayaan, tanpa potongan platform dan tanpa algoritma.
“Pembeli sudah kenal produknya. Tinggal posting, langsung ada yang pesan,” ujar Rina.
Selain itu, komunikasi dua arah yang cepat membuat UMKM bisa menyesuaikan produk dan harga secara fleksibel.
Ekonomi Digital Versi Lokal
Pengamat ekonomi digital menilai fenomena ini sebagai bentuk adaptasi UMKM terhadap realitas pasar digital. Ketika marketplace nasional semakin kompetitif dan mahal, pelaku usaha kecil membangun ekosistem sendiri yang lebih sederhana namun efektif.
“Ini bukan kemunduran digital, tapi digitalisasi versi lokal,” ujarnya.
Namun, pola ini juga membuat transaksi UMKM sulit terdata secara resmi, sehingga kontribusinya kerap tak tercermin dalam statistik ekonomi digital.
Alarm bagi Ekosistem UMKM
Sepinya UMKM Jateng di marketplace nasional saat 12.12 menjadi sinyal bahwa strategi digitalisasi UMKM perlu dievaluasi. Pendampingan tidak cukup hanya mengajarkan cara membuka toko daring, tetapi juga bagaimana bersaing secara adil di platform besar.
Tanpa kebijakan yang adaptif, UMKM lokal berpotensi semakin tersisih dari etalase digital nasional—meski tetap hidup di ruang-ruang percakapan WhatsApp. (Je)








