KUDUS, Kaifanews – Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton meninjau langsung posko pengungsian warga terdampak banjir di Kecamatan Mejobo, Jumat (16/1/2026) malam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Peninjauan dilakukan untuk memastikan kondisi pengungsi, ketersediaan logistik, serta layanan kesehatan berjalan optimal.

Kunjungan dilakukan di Posko Pengungsian Balai Desa Gulang. Di lokasi tersebut, tercatat sebanyak 207 warga dari enam desa terpaksa mengungsi akibat rumah mereka terendam banjir. Selain mengecek kondisi tempat pengungsian, Wabup Bellinda juga menyempatkan diri berinteraksi dengan anak-anak.

Ia membagikan susu UHT, buku bacaan, alat peraga edukasi (APE), serta mainan untuk mengurangi kejenuhan anak-anak selama berada di pengungsian. Menurutnya, anak-anak perlu tetap difasilitasi agar bisa beraktivitas positif meski berada dalam situasi bencana.

“Kita ingin anak-anak tetap ceria, tidak bosan, dan tetap bisa belajar bersama. Dengan begitu, kondisi psikologis mereka tetap terjaga,” ujar Bellinda di sela kunjungan.

Secara umum, Bellinda menilai kondisi posko pengungsian di wilayah Mejobo dalam keadaan baik. Ketersediaan logistik pangan dinilai mencukupi, sementara layanan kesehatan juga telah disiagakan. Ia memastikan setiap posko memiliki petugas kesehatan yang memantau kondisi pengungsi secara berkala.

“Kondisi posko baik, logistik aman, dan ada posko kesehatan. Alhamdulillah, pengungsi dalam kondisi sehat,” katanya.

Bellinda juga mengingatkan warga yang masih bertahan di rumah agar tidak memaksakan diri jika genangan air semakin tinggi.

Ia meminta warga segera mengungsi demi keselamatan, seraya memastikan kapasitas posko masih memadai dan kebutuhan pengungsi akan dipenuhi.

“Kami pastikan posko diisi sesuai kapasitas agar tetap nyaman. Kebutuhan makan juga kami siapkan tiga kali sehari,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gulang Aris Subkhan menyampaikan bahwa kondisi pengungsian masih terkendali. Logistik relatif mencukupi, meski masih membutuhkan tambahan selimut, perlengkapan mandi, serta minyak telon untuk anak-anak.

“Pengungsi di sini tidak hanya dari Desa Gulang, tapi juga dari Payaman, Karangrowo, Kirig, dan Ngemplak,” jelas Aris.

Ia merinci, jumlah pengungsi anak-anak sebanyak 28 orang, dengan rincian dua bayi, 20 balita, 48 remaja, 79 orang dewasa, dan 29 lansia. Sebelumnya terdapat satu pengungsi yang menderita stroke dan telah dirujuk ke Puskesmas Jepang.

“Kami rutin memantau kesehatan pengungsi. Jika perlu penanganan lanjutan, langsung kami rujuk ke puskesmas,” tandasnya.