KUDUS, Kaifanews — Ribuan warga di Kabupaten Kudus terdeteksi memiliki gejala tuberkulosis (TBC) setelah dilakukan skrining kesehatan massal oleh pemerintah daerah.
Data Dinas Kesehatan Kudus (DKK) mencatat sebanyak 5.991 orang masuk kategori suspek TBC hingga Maret 2026. Angka ini bahkan melampaui target awal deteksi yang ditetapkan sebanyak 4.281 kasus.
Kepala DKK, Abdul Hakam, menyebut capaian tersebut menunjukkan efektivitas program skrining cek kesehatan gratis (CKG) dalam menemukan potensi kasus sejak dini.
“Ini menunjukkan skrining yang kita lakukan cukup efektif untuk menemukan suspek TBC di masyarakat,” ujarnya saat diwawancara usai kegiatan di Pendapa Kabupaten Kudus pada Senin 27 April 2026.
Secara nasional, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban kasus Tuberkulosis tertinggi di dunia, bahkan menempati posisi kedua setelah India.
Menurut Hakam, tingginya angka suspek di Kudus dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola hidup tidak sehat hingga kebiasaan merokok. Ia juga menyoroti bahwa TBC kini tidak hanya menyerang kelompok usia tertentu.
“Sekarang usia muda juga rentan. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.
Gaya hidup anak muda turut disorot sebagai salah satu pemicu. Kebiasaan berkumpul di ruang tertutup dengan ventilasi buruk serta rendahnya kesadaran menjaga kesehatan dinilai mempercepat potensi penularan.
Dinas Kesehatan Kudus pun mulai mengantisipasi potensi penyebaran di lingkungan dengan aktivitas komunal tinggi, seperti pondok pesantren. Belajar dari kasus di daerah lain, langkah pencegahan akan diperkuat melalui skrining langsung.
“Tingginya kasus TBC di lingkungan pesantren di daerah lain menjadi perhatian kami. Ke depan, kami akan lakukan skrining ke pesantren,” jelasnya.
Lebih dari 200 pondok pesantren di Kudus direncanakan menjadi sasaran pemeriksaan mulai bulan depan. Upaya ini diharapkan mampu mendeteksi gejala lebih dini sekaligus menekan penyebaran penyakit.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari dukungan daerah terhadap target nasional eliminasi TBC pada 2030 melalui deteksi dini dan penanganan berkelanjutan.
“Melalui skrining intensif ini, kami berharap penyebaran bisa ditekan dan target eliminasi bisa tercapai,” tandasnya. (*)








