KUDUS – Di sebuah sudut tenang wilayah Sunggingan, deru tatah kayu yang beradu dengan palu seolah memanggil memori masa lalu. Di sinilah jejak Kyai Telingsing, sosok ulama asal Tiongkok, tertanam kuat sebagai peletak dasar seni ukir legendaris khas Kudus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kyai Telingsing atau The Ling Sing bukan sekadar pendakwah, melainkan maestro yang mengenalkan teknik ukir detail kepada masyarakat setempat. Beliau menjadi tokoh kunci dalam penyebaran Islam sebelum masa Sunan Kudus dengan pendekatan seni yang sangat halus.

Sejarah mencatat bahwa kemasyhuran ukiran Kudus yang rumit dan artistik bermula dari bimbingan tangan dingin sang Kyai tersebut. Beliau berhasil memadukan motif naga dari Tiongkok dengan kearifan lokal hingga menciptakan corak yang sangat ikonik hingga sekarang.

Kehebatan beliau menarik perhatian Sunan Kudus yang kemudian datang untuk menimba ilmu agama serta seni kepadanya secara langsung. Hubungan guru dan murid ini menjadi fondasi kuat terbentuknya peradaban Islam yang toleran serta kaya akan nilai estetika.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus menjelaskan bahwa Kyai Telingsing adalah simbol nyata akulturasi budaya yang sangat harmonis. Beliau menyebutkan bahwa warisan ukir Sunggingan kini menjadi identitas dunia yang mengangkat martabat ekonomi kreatif para perajin lokal.

Makam beliau di daerah Sunggingan hingga kini tidak pernah sepi dari kunjungan para peziarah yang ingin mengharap keberkahan. Pengunjung sering kali terkesima melihat ornamen bangunan di sekitar makam yang mencerminkan kejayaan seni masa silam yang sangat megah.

Pemerintah daerah terus berkomitmen menjaga kelestarian makam dan sejarah Kyai Telingsing melalui berbagai festival kebudayaan tahunan yang meriah. Langkah ini sangat penting agar generasi muda tidak melupakan akar sejarah yang telah membentuk jati diri kota mereka.

Mengenal Kyai Telingsing berarti belajar tentang ketulusan dalam berkarya dan keberanian dalam menyebarkan kebaikan melalui keindahan seni ukir. Warisannya akan selalu hidup dalam setiap goresan kayu yang dipahat oleh jemari kreatif masyarakat Kota Kretek saat ini. (*)