KUDUS, Kaifanews – Terik matahari siang itu tak menghalangi sosok berkostum pink dan topi biru melambaikan tangan di perempatan Bangjo Tanjung, Kudus. Dengan kaleng hijau di tangan kiri dan speaker kecil di pinggang, ia menyapa setiap pengendara yang berhenti saat lampu merah menyala.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Senin siang 11 Mei 2026 saat ditemui Kaifanews, Pria 30-an tahun itu berkata namanya Pras. Asli Surabaya, ia sudah setahun terakhir mencari nafkah sebagai badut lampu merah di Kudus. Kini ia bertempat tinggal di kamar kost di wilayah Kecamatan Jati, Kudus.

Sehari-hari, Pras harus berjibaku dengan panas aspal, asap knalpot, dan debu jalanan. Di balik kostum tebal itu, keringat bercucuran.

“Gerah, panasnya sampai ke ubun-ubun. Apalagi kalau siang bolong,” katanya. Namun semua itu ia jalani sebagai pilihan hidup.

Omzet yang didapat Pras tak menentu. Rata-rata Rp. 100 ribu per hari. Jika hujan turun, penghasilan kadang tak sampai Rp. 50 ribu. Padahal ia harus membiayai keluarga dan membayar uang kost setiap bulan.

“Kalau hujan ya pulang. Kostum basah, speaker juga bisa rusak. Tapi kebutuhan jalan terus,” ujarnya.

Meski begitu, ada hal yang membuatnya betah. Pras mengaku cukup senang melihat anak-anak kecil yang duduk di motor orang tuanya. Mereka tertawa lepas, melambaikan tangan, tersenyum ke arahnya, meski kadang orang tuanya tidak memberikan lembar seribuan ke kalengnya.

“Lihat mereka senang saja sudah bikin hati adem,” ucap Pras.

Bagi Pras, pekerjaannya ini bukan mengemis. Ia menegaskan memilih menghibur ketimbang meminta-minta. Walau kadang ada yang mencibir dirinya hanya berpangku tangan di jalan, Pras tetap pada niatnya.

“Saya niatkan ini pekerjaan menghibur. Daripada diam saja di lampu merah, mending bikin orang senyum,” tuturnya.

Dengan topeng ceria yang selalu dikenakan, Pras terus bertahan di tengah terik dan bising Bangjo Tanjung. Di balik senyum badut itu, ada cerita tentang pilihan, keringat, dan beban tanggung jawab keluarga yang harus dipikul. (*)