KUDUS, Kaifanews — Pondok Pesantren Tahfidz Metode Qiroati pertama di Kabupaten Kudus resmi mulai dibangun di atas lahan seluas 1.174 m². Peletakan batu pertama dilaksanakan pada Ahad lalu 10 Mei 2026 di Dukuh Pelang, Desa Margorejo, Kecamatan Dawe. Prosesi dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Musta’in Yanis dan diawali dengan doa bersama.
Lahan pondok merupakan tanah wakaf dari pewaqaf untuk Qiroati Cabang Kudus dan direncanakan berlantai tiga serta telah mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen Qiroati Cabang Kudus serta para guru TPQ Qiroati se-cabang Kudus.
Dalam arahannya, KH. Ahmad Musta’in Yanis menekankan pentingnya keikhlasan selama proses pembangunan.
“Kita harus selektif ketika menerima infaq dari luar, terutama yang mengikat atau memiliki kepentingan lain. Misalnya ada yang ingin menitipkan calon pengajar padahal belum memiliki syahadah Qiroati, kita tahan. Karena infaq ini jalan keikhlasan, supaya Qiroati tidak merasa berhutang budi,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Qiroati Cabang Kudus, Ustadz Ahmad Fadlli, menerangkan;
“Metode Qiroati disusun oleh KH. Dahlan Salim Zarkasyi dan lebih menekankan pada praktik baca Al-Qur’an dengan langkah praktis sesuai kaidah ilmu tajwid, dengan tenaga pengajar melalui bimbingan LPGQ (Lembaga Pendidikan Guru Qiroati) terlebih dahulu,” terangnya.
“Adapun pada Juli mendatang, Santri-santri dan guru binaan Metode Qiroati akan mewakili Cabang Kudus di ajang Festival Qiroati Nasional (FQN) ke-10 yang digelar Dewan Koordinator Pusat Qiroati (DKP) di Ballroom Hotel Gracia, Semarang. Cabang yang dilombakan meliputi Tartil, Tahfidz, Cerdas Cermat Qiroati (CCQ), serta Guru Berprestasi,” ujarnya.
“Ini merupakan output dari pembelajaran yang selama ini menekankan kedisiplinan dengan slogan ‘Anut Manut Penak’. Jika kita mengikuti cara mengajar sesuai kaidah yang diajarkan dalam metodologi maka insyaallah dengan ‘manut’ itu akan berbuah hasil baik dan keberkahan,” tambah Ustadz Fadlli.
Beragam metode baca Al-Qur’an yang berkembang di Kudus merupakan karya para guru besar kita dengan niat mulia mendidik anak belajar membaca Al-Qur’an. Di Kudus sendiri ada juga Metode Yanbu’a karya Putra KH. Arwani Amin (Gus Ulin dan Gus Bab, dan tim). Ada juga Metode Iqro’ yang lahir dari Jogjakarta, dan masih ada langgar-langgar atau mushola yang menggunakan metode lama bagdadiyah atau familiar kita menyebut ‘turutan’.

“Sudah sejak tahun 1963, KH. Dachlan Salim Zarkasyi menyusun Metode Qiroati ini hingga kita rasakan sampai sekarang kepraktisannya mengantarkan anak-anak mampu membaca tartil, bahkan ada yang usia dini,” tambah Ustadz Fadlli.
Ia menambahkan bahwa santri yang lulus EBTAQ atau Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiroati dari lembaga TPQ berpeluang melanjutkan pendidikan ke jenjang pasca TPQ metode Qiroati. Lembaga pasca TPQ yang dimaksud meliputi Program Tahfidz Pasca TPQ (PTPT) dan Program Diniyah Pasca TPQ (PDPT). Keduanya sama-sama merupakan program menghafal tanpa mondok.
Adapun dibangunnya pondok ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya para hafidz dan hafidzoh Al-Qur’an binaan Qiroati Cabang Kudus dengan sistem mondok.
Untuk pendidikan tingkat dasar, direncanakan pula adanya Paket A program kesetaraan (setara SD/MI) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (*)








