Kaifanews.com – Peristiwa viral di ajang Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Kebangsaan di Kalimantan Barat baru-baru ini menjadi bahan refleksi penting bagi dunia pendidikan. Seorang siswa SMA dinilai kurang tepat oleh dewan juri karena masalah artikulasi, padahal jawaban yang diucapkan identik dengan jawaban kelompok lain yang dinyatakan benar beberapa saat kemudian.
Dan video itu mendadak viral di sosial media dengan bukti pengucapan jawaban yang memang benar dan dapat didengar jelas oleh publik. Siswa tersebut meluruskan dengan santun namun jawaban juri dan panitia mengetuk rasa keadilan.
Kasus di Kalbar ini menegaskan bahwa dalam setiap kompetisi, ketepatan mendengar, kejelasan menjawab, dan keadilan menilai sama pentingnya dengan penguasaan materi. Untuk itu panitia, juri, dan peserta perlu membekali diri agar kejadian serupa tidak terulang.
Bagi dewan juri, prinsip adil dan cermat menjadi kunci. Juri sebaiknya memberi ruang klarifikasi dengan meminta peserta mengulang jawaban bila terdengar samar, bukan langsung memvonis salah.
Konsistensi penilaian wajib dijaga. Jika satu kelompok dibenarkan, maka kelompok lain dengan substansi jawaban sama harus diperlakukan setara. Catatan kunci jawaban dan rekaman audio dapat membantu menjaga objektivitas.
Bagi panitia dan pembawa acara, netralitas dan teknis adalah prioritas. Pembawa acara berperan sebagai penengah, tidak boleh subjektif. Hindari berkomentar yang menghakimi. Gunakan kalimat netral seperti, “Kita konfirmasi dulu ke dewan juri,” untuk meredam ketegangan.
Panitia wajib memastikan teknis audio berjalan baik agar tidak ada jawaban yang hilang karena gangguan mikrofon. Pastikan juga technical meeting membahas detail teknis penilaian agar tidak ada tafsir berbeda di lapangan.
Perlakuan kepada peserta yang mengangkat tangan usul jika terkait hal yang harus diklarifikasi juga jangan langsung kita patahkan meski di berbagai perlombaan, kapasitas juri tidak bisa diganggu gugat. Tapi menjadi penyelenggara yang profesional tentunya akan menjadi nilai dedikasi sendiri dari mata publik.
Sementara bagi siswa sebagai peserta lomba cerdas cermat atau sejenisnya, ada lima hal yang perlu diperhatikan. Pertama, meski bukan penentu dari kebenaran jawaban, tetap perjelas artikulasi. Ucapkan jawaban dengan tempo terkontrol, tekankan huruf akhir seperti T, D, K, dan S agar tidak menimbulkan tafsir ganda di telinga juri.
Kedua, gunakan teknik konfirmasi ulang. Jika situasi memungkinkan, sampaikan, “Mohon izin mengulang jawaban dengan lebih jelas,” sebelum juri mengetuk palu.
Ketiga, pahami juga pedoman penilaian sebelum lomba dimulai.
Keempat, latih diri dengan merekam simulasi lomba. Dengarkan kembali rekaman untuk mengevaluasi kejelasan artikulasi.
Kelima, jika terjadi kekeliruan, luruskan dengan adab. Angkat tangan, sampaikan dengan tenang: “Mohon maaf, izin meluruskan. Jawaban kami sama dengan kelompok sebelumnya,” sembari menjaga sikap hormat kepada dewan juri.
Namun perlu disadari, tidak semua hal bisa kita kontrol. Ketika ketidakadilan bisa saja terjadi meski kadang sudah berupaya maksimal, untuk itu kuatkan motivasi bahwa kita sudah memberikan yang terbaik. Sikap kesatria menerima hasil, sembari tetap menyuarakan kebenaran dengan santun, justru menunjukkan kedewasaan berkompetisi.
Di era digital saat ini, keputusan yang diambil di atas panggung dapat langsung menjadi perhatian publik secara nasional dalam waktu singkat. Ada istilah; No Justice No Viral, kadang pengguna jejaring sosial media yang bertindak.
Namun, tentunya kita tidak ingin hal buruk terjadi, maka polemik yang muncul pada akhirnya tidak hanya menyoal penilaian benar atau salah dalam cerdas cermat, tetapi juga mencerminkan sikap kritis masyarakat terhadap transparansi, akuntabilitas, serta cara pemangku kewenangan menanggapi masukan di ruang publik.
Lomba serupa, Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Kebangsaan 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah, juga telah lebih dulu digelar pada 11 April 2026 di MG Setos Hotel, Semarang. (*)








