KUDUS, Kaifanews — Program pencarian jodoh yang digagas Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus mendapat respons tinggi dari masyarakat. Program bertajuk Gegas atau Golek Garwo itu bahkan telah diikuti puluhan peserta hanya dalam waktu singkat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Program yang digagas LKKNU PCNU Kudus tersebut tidak hanya bertujuan mempertemukan pasangan hidup, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan keluarga dan menekan angka perceraian.

Sekretaris LKKNU Kudus, Mohammad Solikul Huda, mengatakan program Gegas lahir dari kebutuhan nyata masyarakat yang banyak menghadapi persoalan mencari pasangan maupun konflik rumah tangga.

“Program Gegas ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat. Banyak yang kesulitan mencari pasangan, sekaligus maraknya persoalan rumah tangga yang berujung perceraian,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa 12 Mei 2026.

Sekretaris LKKNU Kudus Mohammad Solikul Huda menjelaskan program Gegas. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Menurutnya, pernikahan bukan sekadar hubungan emosional, tetapi membutuhkan kesiapan mental, ekonomi, dan pemahaman tanggung jawab dalam keluarga.

“Menikah itu ibadah panjang, jadi tidak cukup hanya modal cinta, tapi juga kesiapan dan tanggung jawab,” katanya.

Ia menjelaskan, program tersebut juga dilengkapi pendampingan dan edukasi bagi calon pasangan agar lebih siap membangun rumah tangga yang harmonis.

Tak hanya melayani pencarian jodoh bagi lajang, LKKNU Kudus juga membuka layanan konsultasi keluarga bagi pasangan yang telah menikah. Sejumlah persoalan rumah tangga yang ditangani cukup beragam, mulai dari masalah ekonomi, ketidakharmonisan, hingga kecanduan judi yang berdampak pada perceraian.

“Ada juga kasus pernikahan yang sejak awal dibangun dengan informasi yang tidak jujur, misalnya soal pekerjaan. Setelah menikah baru diketahui tidak sesuai fakta dan akhirnya berujung perceraian,” ungkapnya.

Untuk menjaga keseriusan peserta, LKKNU menerapkan proses seleksi dan verifikasi data secara ketat. Seluruh identitas peserta wajib valid dan disertai surat pernyataan kesungguhan mengikuti program.

Selain itu, pencarian pasangan juga mempertimbangkan berbagai aspek seperti usia, latar belakang, hingga kesiapan pribadi masing-masing peserta.

“Prosesnya tidak asal mempertemukan, tetapi juga melihat kecocokan dan kesiapan agar rumah tangga nantinya bisa berjalan lebih baik,” paparnya.

Sebagai bentuk penguatan ketahanan keluarga, LKKNU juga menyiapkan program bimbingan calon pengantin secara mandiri. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan ekonomi keluarga, kepemimpinan rumah tangga, hingga membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.

“Kalau pasangan paham peran masing-masing, potensi konflik bisa ditekan sejak awal,” jelasnya.

Saat ini jumlah pendaftar tercatat sekitar 45 orang, bahkan beberapa di antaranya berasal dari luar daerah seperti Pemalang. LKKNU Kudus menargetkan peluncuran resmi program akan dilakukan setelah jumlah peserta mencapai minimal 50 hingga 100 orang.

Untuk memperkuat pendampingan, LKKNU juga menggandeng sejumlah pihak seperti psikolog serta lembaga perlindungan perempuan dan anak.

“Harapan kami, program ini bisa menjadi jalan ikhtiar bagi masyarakat untuk menemukan jodoh sekaligus memperkuat ketahanan keluarga,” tandasnya. (*)