KUDUS,Kaifanews — Tidak semua cerita besar lahir dari peristiwa yang luar biasa. Banyak kisah sederhana di sekitar masyarakat yang justru menyimpan makna mendalam, namun sering kali terlewat dari perhatian. Gagasan inilah yang diangkat Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 melalui tema “Scene The Unseen”.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tema tersebut menjadi benang merah dalam seluruh rangkaian festival tahun ini. Para peserta diajak menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi jarang mendapat ruang untuk diceritakan atau didokumentasikan.

Rumah, pertemanan, pekerjaan, keresahan, mimpi, hingga dinamika kehidupan komunitas menjadi bagian dari realitas yang dinilai memiliki kekuatan cerita yang besar. Melalui medium film, pengalaman-pengalaman tersebut diangkat menjadi karya yang dapat membuka perspektif baru bagi penonton.

Perwakilan dewan juri FFAB 2026, Cornel Innos, mengatakan proses kurasi tahun ini tidak hanya berfokus pada kualitas teknis sebuah film. Dewan juri juga memberi perhatian terhadap kekuatan gagasan dan cara peserta menyampaikan cerita.

“Proses kurasi tidak hanya melihat aspek teknis, tetapi juga kekuatan gagasan, cara bertutur, relevansi tema, serta kemampuan film dalam menghadirkan perspektif yang jujur dan segar,” paparnya saat konferensi pers Selasa 10 Juni 2026.

Menurut Cornel, tema “Scene The Unseen” menjadi salah satu pijakan utama dalam membaca karya-karya peserta. Juri berusaha melihat bagaimana para sineas muda mampu menangkap pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat, namun sering kali tidak dianggap penting.

“Tema ini menjadi penting karena mengajak kita melihat kembali berbagai pengalaman yang sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi sering luput dari perhatian,” jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, FFAB ingin menunjukkan bahwa film tidak selalu harus berbicara tentang sesuatu yang besar atau spektakuler. Cerita sederhana yang lahir dari kehidupan sehari-hari juga dapat memiliki nilai kemanusiaan yang kuat ketika disampaikan dengan jujur dan kreatif.

Penyelenggara berharap tema yang diangkat tahun ini dapat mendorong lahirnya lebih banyak karya yang berakar pada realitas masyarakat. Selain menjadi sarana ekspresi kreatif, film juga diharapkan mampu menjadi ruang refleksi terhadap berbagai fenomena sosial yang terjadi di sekitar.

Bagi FFAB, sinema memiliki kemampuan untuk menghadirkan percakapan dan mempertemukan berbagai perspektif. Karena itu, cerita-cerita yang selama ini dianggap biasa justru layak mendapatkan ruang untuk didengar dan dirayakan bersama.

Melalui “Scene The Unseen”, festival ingin mengingatkan bahwa banyak cerita berharga tersembunyi di balik aktivitas sehari-hari masyarakat. Ketika kisah-kisah tersebut diangkat ke layar, film dapat menjadi medium yang lebih dekat, relevan, dan bermakna bagi publik.

“Film mampu mengangkat pengalaman yang dekat dengan kehidupan, tetapi sering luput dari perhatian. Di situlah letak kekuatan cerita yang kami temukan dalam banyak karya peserta,” tandasnya. (*)