KUDUS, Kaifanews – Dari 20 peserta Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Kejuruan Bordir kerjasama Dekranasda Kabupaten Kudus dengan Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, ada kisah yang menyita perhatian. Ia adalah Sri Yulfiana, gadis berusia 18 tahun, warga Singocandi, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Yulfiana berasal dari keluarga tidak mampu. Keluarganya pengamen, ibunya buruh harian, dan ia hanya lulusan SMP. Ia terpaksa tidak melanjutkan sekolah karena harus menjaga adik dan mengurus rumah.

“Saya maunya kerja, tapi kalau kelakuan bapak nggak bisa, nggak bisa aku,” ucapnya usai penutupan kegiatan di Pendapa Belakang Kabupaten Kudus pada Senin 27 Juli 2026.

Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Yulfiana menjadi tumpuan di rumah. Kakaknya merantau dan jarang pulang. Sehari-hari ia bergantian menjaga adik yang masih kecil.

“Kalau ibu tuh buruh, kalau bapak tuh nggak buruh, dia kadang momong, cuma nungguin adik. Kalau ada bahaya baru ditengok, was-was jadinya aku kalau ditinggal,” tuturnya lirih.

Sri Yulfiana (18), warga Singocandi Kudus, peserta PKW Bordir bersama mesin jahit barunya yang diberikan di Pendapa belakang Kabupaten Kudus. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Motivasinya mengikuti PKW Bordir sederhana, ingin membangkitkan ekonomi keluarga dan mencari teman serta ilmu baru.

“Untuk kembangin ekonomi keluarga, punya teman dan guru,” katanya.

Awalnya ia bahkan tidak tahu terkait adanya program ini. Ia mengaku didaftarkan tetangganya dan berangkat tanpa bekal kemampuan apa pun.

“Awalnya aku didaftarin tetangga, aku nggak tahu apa-apa dan nggak bisa apa-apa, lama-lama setelah ikut ini ya seneng,” kenangnya.

Perjuangannya tidak mudah. Selama pelatihan 36 hari sejak 15 Juni hingga 27 Juli 2026, ia kerap harus berjalan kaki dari rumah ke lokasi pelatihan jika bapaknya tidak bisa mengantar.

“Tergantung kalau bapak bisa antar ya diantar, kalau nggak bisa ya jalan kaki, hari ini dari rumah sampai sini juga jalan kaki,” tuturnya.

Sri Yulfiana (18), warga Singocandi Kudus, peserta PKW Bordir bersama mesin jahit barunya yang diberikan di Pendapa belakang Kabupaten Kudus. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Kini setelah pelatihan, Yulfiana sudah bisa menjahit dan mengenal teknik bordir meski mengaku belum terlalu mahir.

“Mungkin sekarang belum agak bagus membuatnya, tapi Insya Allah kalau rajin aku bisa. Sudah berlatih menjahit kain-kainnya, lumayan bisa sekarang,” katanya optimistis.

Hal pertama yang ingin ia lakukan setelah mendapat bantuan mesin jahit bordir gratis dari Kemendikdasmen adalah menjahitkan baju untuk ibunya.

“Insya Allah ke depan setelah diberi mesin ini, hal pertama yang ingin aku jahit itu baju ibu dulu biar agak bagus,” ucapnya dengan mata berbinar.

Sementara itu Kabid Perindustrian yang juga Wakil Sekretaris Dekranasda Kudus, Ninuk Herdjini, mengaku sangat tersentuh melihat perjuangan para peserta. Mereka memang ditargetkan oleh pemerintah pusat sebagai anak-anak kurang beruntung yang ingin memperbaiki hidup.

Pihaknya bahkan sampai harus menjemput peserta seperti Yulfiana agar tetap bisa mengikuti pelatihan karena tidak memiliki kendaraan.

“Terkadang sampai harus menjemput peserta dan salah satunya seperti Yulfiana agar dapat mengikuti pelatihan karena peserta tidak memiliki kendaraan,” ungkapnya.

Dekranasda menegaskan tidak akan lepas tangan setelah pelatihan selesai. Pendampingan akan terus dilakukan agar bantuan benar-benar memberi manfaat nyata. Pihaknya berharap kegiatan serupa semakin banyak agar kemiskinan di Kudus bisa teratasi. (*)