KUDUS, Kaifanews — Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kabupaten Kudus mulai memasuki tahap akhir. Hingga awal Agustus, pendataan telah mencapai 78,33 persen, atau lebih tinggi dibanding target sementara Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus sebesar 70,20 persen.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Capaian tersebut membuat BPS Kudus cukup percaya diri dapat menuntaskan seluruh proses pendataan sebelum batas akhir pada 31 Agustus 2026.

Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suharto mengatakan, progres yang telah melewati target menjadi modal penting untuk mengejar penyelesaian di seluruh wilayah.

“78,33 persen dari targetnya 70,20 persen. Jadi kita sudah di atas target. Mudah-mudahan sampai akhir bulan, bahkan sebelum akhir bulan ini sudah selesai,” katanya saat dikonfirmasi pada Selasa 11 Agustus 2026.

Dari sembilan kecamatan di Kudus, lima wilayah telah mencatat progres di atas 80 persen. Kelima kecamatan tersebut yakni Undaan, Jekulo, Mejobo, Gebog, dan Dawe.

Lika-liku Petugas Sensus di Kudus, Ada Air Mata, Nostalgia, dan Segelas Es Kopi
Petugas Sensus Ekonomi 2026 BPS Kabupaten Kudus, Rista Ratna Dewi, melakukan pendataan di masyarakat. (istimewa)

Sementara empat kecamatan lainnya masih berada di bawah 80 persen, yakni Bae, Jati, Kota, dan Kaliwungu. Kaliwungu menjadi wilayah dengan progres terendah, meski angkanya sudah mencapai sekitar 76 persen.

Perbedaan kecepatan pendataan tersebut, menurut Eko, tidak lepas dari karakteristik masing-masing wilayah.

Di kawasan yang lebih banyak berupa pedesaan, petugas cenderung lebih mudah bertemu dengan responden karena sebagian warga masih berada di rumah pada siang hari. Kondisinya berbeda di wilayah yang lebih perkotaan.

Banyak pasangan suami istri di kawasan Bae, Jati, Kota, dan Kaliwungu yang bekerja pada siang hari. Akibatnya, petugas harus menyesuaikan waktu kunjungan agar responden dapat ditemui.

“Kalau yang pedesaan relatif lebih mudah ditemui. Kalau di wilayah perkotaan, banyak suami istri bekerja sehingga pendataan lebih efektif dilakukan sore hingga malam hari,” ujarnya.

Untuk mengejar ketertinggalan di empat kecamatan tersebut, BPS meminta petugas lebih fleksibel dalam menentukan waktu pendataan. Kunjungan pada sore hingga malam hari maupun akhir pekan menjadi salah satu strategi yang ditempuh.

Dari sisi sumber daya manusia, BPS memastikan jumlah petugas tetap mencukupi. Sebanyak 622 petugas saat ini dikerahkan untuk melakukan pendataan di lapangan.

Jumlah tersebut sempat berkurang setelah 12 petugas mengundurkan diri pada awal pelaksanaan. Namun, BPS langsung mencari pengganti dan memberikan pelatihan kembali sehingga tidak mengganggu kebutuhan petugas di lapangan.

“Yang mundur itu 12 orang. Langsung kita carikan pengganti dan kita latih lagi. Jadi jumlah petugas tetap kami jaga agar pendataan berjalan sesuai target,” jelas Eko.

Perkembangan terbaru ini sekaligus menunjukkan perbaikan posisi Kudus dalam pelaksanaan SE2026. Sebelumnya, Kudus sempat masuk lima daerah dengan progres pendataan terendah di Jawa Tengah.

Ketika ditanya mengenai posisi tersebut, Eko memastikan Kudus kini telah keluar dari kelompok tersebut.

“Sudah tidak. Sudah lepas,” ucapnya.

BPS masih mengandalkan dukungan masyarakat untuk menyelesaikan sisa pendataan hingga akhir Agustus. Warga yang menjadi responden diharapkan bersedia menerima petugas dan memberikan informasi sesuai kondisi usaha maupun kegiatan ekonomi yang sebenarnya.

Eko optimistis sisa pendataan dapat dikejar dalam waktu yang tersedia.

“Harapan kami sampai 31 Agustus bisa terselesaikan dengan baik. Persentasenya tinggal sedikit lagi. Mudah-mudahan tetap selesai pada waktunya,” tandasnya.