KUDUS, Kaifanews — Pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Kudus tengah menghadapi tekanan berat akibat krisis pasokan kedelai impor yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Harga kedelai impor yang terus merangkak mengganggu kelangsungan produksi para pengrajin. saat ini harga kedelai impor naik menjadi Rp10.700 per kilogram.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh dampak konflik global yang melibatkan Amerika Serikat, serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Salah satu perajin tahu di desa Ploso Kudus, Bejo, menyampaikan bahwa beberapa pekan harganya melonjak signifikan, kondisi ini membuatnya mengurangi pasokan produksi untuk bisa menekan biaya tanpa menaikkan harga jual yang nanti-nya akan mempengaruhi daya beli masyarakat.

“Sekarang harga kedelai terus naik, sementara kami tidak bisa langsung menaikkan harga jual tahu dan tempe karena daya beli masyarakat terbatas,” ujar Bejo salah satu perajin tahu di Kudus.

Kondisi tersebut mulai dirasakan oleh para pelaku usaha tahu dan tempe yang sangat bergantung pada kedelai impor sebagai bahan baku utama.

Sejumlah pengusaha mengaku kesulitan memperoleh kedelai dengan harga yang stabil. Jika sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran terjangkau, kini harganya melonjak signifikan, bahkan cenderung fluktuatif. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat tajam dan margin keuntungan semakin menipis.

Saat ini, para perajin tengah bertahan di tengah lonjakan harga kedelai impor, dengan strategi menahan harga jual tahu di pasar untuk menjaga pelanggan, meski margin keuntungan menyusut. Produksi tetap berlanjut dengan penyesuaian kapasitas produksi.

Akibatnya, banyak pelaku usaha terpaksa mengambil langkah efisiensi, mulai dari mengurangi  produksi hingga mengecilkan ukuran produk. Beberapa bahkan memilih menghentikan sementara produksi karena tidak sanggup menanggung biaya operasional yang terus meningkat.

Krisis ini juga berdampak pada para pekerja di sektor industri rumahan tahu dan tempe. Penurunan produksi menyebabkan berkurangnya jam kerja, bahkan tidak sedikit pekerja yang dirumahkan untuk sementara waktu.

Para pengusaha berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan pasokan dan harga kedelai, termasuk membuka akses impor yang lebih luas atau mendorong peningkatan produksi kedelai lokal. Selain itu, dukungan berupa subsidi atau bantuan bagi pelaku UMKM juga dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka.

Di sisi lain, pengamat ekonomi menilai ketergantungan terhadap kedelai impor menjadi akar persoalan yang perlu segera diatasi. Tanpa upaya serius untuk memperkuat produksi dalam negeri, kondisi serupa berpotensi terus berulang dan membebani pelaku usaha kecil.

Dengan kondisi yang belum menentu, pengusaha tahu dan tempe di Kudus kini hanya bisa berharap situasi segera membaik, agar roda usaha tetap berputar dan kebutuhan masyarakat akan pangan olahan kedelai tetap terpenuhi. (*)