KUDUS, Kaifanews — Anak usia dini tidak harus duduk di depan komputer untuk mulai mengenal konsep koding. Mengenali pola, menyusun urutan, mengikuti instruksi hingga memecahkan persoalan sederhana dalam permainan pun bisa menjadi bagian dari pembelajaran tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Gagasan itu menjadi salah satu materi yang ditekankan dalam kegiatan Pengimbasan Implementasi Pembelajaran Mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Satuan PAUD di Kabupaten Kudus yang diikuti 100 pengurus Pusat Kegiatan Gugus (PKG) Kecamatan dan PKG Kabupaten.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus untuk memperkuat kompetensi pendidik PAUD sekaligus mengenalkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi.

Kegiatan dibuka Plt. Kepala Disdikpora Kabupaten Kudus yang diwakili Kepala Bidang PAUD dan DIKMAS, Arief Dwi Aryanto.

Arief menegaskan, penerapan pembelajaran mendalam, koding dan kecerdasan artifisial pada jenjang PAUD tidak boleh diterjemahkan sebagai pemberian materi teknologi yang berat kepada anak.

“Pembelajaran mendalam pada jenjang PAUD bukan berarti memberikan materi yang berat kepada anak. Justru yang kita dorong adalah bagaimana anak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, mampu mengeksplorasi lingkungan, mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan berpikir, serta belajar memecahkan masalah melalui kegiatan yang sesuai dengan dunianya,” jelasnya.

Menurut Arief, dunia anak tetap harus menjadi pijakan utama. Karena itu, konsep koding dapat dikenalkan melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian anak dan dikemas dalam bentuk permainan.

Anak, misalnya, dapat diajak mengenali pola, mengurutkan langkah, mengikuti instruksi atau mencari solusi dari sebuah permainan. Dengan cara tersebut, kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah dapat berkembang tanpa menghilangkan unsur bermain yang menjadi karakter utama pendidikan anak usia dini.

Hal serupa berlaku dalam pengenalan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi tersebut perlu ditempatkan secara proporsional dengan mempertimbangkan usia, tahap perkembangan, keamanan dan etika.

“Teknologi harus menjadi alat bantu untuk memperkaya pengalaman belajar, bukan menggantikan peran guru. Guru tetap menjadi sosok penting dalam menciptakan pembelajaran yang aman, menyenangkan, bermakna dan berpusat pada anak,” tambah Arief.

100 Pengurus PKG Didorong Jadi Penggerak

Kehadiran 100 pengurus PKG dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada peningkatan kapasitas peserta. Mereka diproyeksikan menjadi penghubung yang membawa pengetahuan dan praktik baik tersebut ke lingkungan PAUD di wilayah masing-masing.

PKG memiliki peran penting sebagai ruang bertemu para pendidik untuk berbagi pengalaman, berdiskusi dan mengembangkan kompetensi. Karena itu, materi yang diperoleh dalam kegiatan pengimbasan diharapkan diteruskan kepada guru-guru melalui aktivitas gugus, diskusi, berbagi praktik baik maupun pendampingan.

“Harapannya, setelah kegiatan ini para pengurus PKG dapat menjadi penggerak di wilayah masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat diimbaskan kepada guru-guru PAUD sehingga semakin banyak satuan pendidikan yang mampu menerapkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Arief.

Upaya tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pembelajaran PAUD yang semakin adaptif terhadap perubahan, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan anak.

Disdikpora Kabupaten Kudus juga menempatkan penguatan pembelajaran mendalam, koding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari ikhtiar menumbuhkan kemampuan anak sejak dini. Di antaranya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah dan kolaborasi.

Dengan pendekatan yang tepat, teknologi diharapkan tidak menjadi pusat pembelajaran, melainkan sarana yang membantu guru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kaya bagi anak.

Pada akhirnya, pengenalan teknologi di jenjang PAUD bukan tentang seberapa cepat anak menguasai perangkat digital. Yang lebih penting adalah bagaimana anak tumbuh sebagai pembelajar yang memiliki rasa ingin tahu, mampu berpikir, berkreasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.