KUDUS, Kaifanews — Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan hijauan pakan ternak di Kabupaten Kudus. Kondisi tersebut membuat Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus mendorong peternak, khususnya pemelihara sapi, kerbau, kambing, dan domba, menyiapkan pakan alternatif agar kebutuhan nutrisi ternak tetap terpenuhi.
Kepala Bidang Peternakan Dispertan Kabupaten Kudus, Arin Nikmah, mengatakan persoalan utama yang mulai muncul selama kemarau bukan pada ketersediaan air minum, melainkan berkurangnya pasokan hijauan segar di lapangan.
Menurutnya, kebutuhan air untuk ternak sejauh ini masih dapat diupayakan oleh para peternak. Namun, pemenuhan nutrisi dan daya tahan tubuh hewan perlu menjadi perhatian agar kondisi ternak tidak menurun selama musim kemarau.
“Untuk pemenuhan sumber air, sumber minum, itu masih bisa diupayakan. Yang penting saat ini memang asupan nutrisi dan imunitasnya harus diperhatikan,” kata Arin saat dikonfirmasi pada Minggu 6 September 2026.
Dispertan Kudus juga masih melakukan upaya menjaga kesehatan ternak melalui pemberian vitamin. Vaksinasi terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) turut menjadi bagian dari pencegahan penyakit pada hewan ternak.
Arin mengatakan peternak perlu mulai mengantisipasi berkurangnya hijauan segar karena kondisinya di sejumlah lokasi mulai menurun.
“Yang jadi persoalan justru mungkin dalam ketersediaan hijauan pakan segar. Di lapangan juga sudah mulai menurun,” ujarnya.
Salah satu langkah yang didorong Dispertan adalah memanfaatkan limbah hasil pertanian sebagai bahan pakan. Bahan tersebut dapat diolah menjadi pakan kering maupun silase, kemudian disimpan untuk digunakan ketika ketersediaan hijauan segar semakin terbatas.
Langkah itu bukan hal baru bagi Dispertan Kudus. Sebelumnya, peternak telah diberikan pelatihan mengenai pembuatan pakan alternatif berbahan limbah pertanian. Dengan cara tersebut, bahan yang tersedia dari musim sebelumnya tidak terbuang dan dapat menjadi cadangan pakan ketika memasuki periode kemarau.
Pemanfaatan pakan alternatif ini terutama penting bagi peternak ruminansia yang masih mengandalkan hijauan sebagai salah satu sumber utama pakan. Kelompok tersebut meliputi peternak sapi, kerbau, kambing, hingga domba.
Arin menyebut penyediaan pakan dari limbah pertanian juga dapat menjadi bentuk mitigasi yang dilakukan peternak sebelum kekurangan hijauan terjadi.
“Ketika hijauan pakan tidak banyak, maka bisa diganti dengan pembuatan pakan dari limbah pertanian yang dibuat di musim sebelumnya. Itu sebagai langkah mitigasi,” jelasnya.
Selain memastikan kesehatan dan kecukupan pakan ternak, Dispertan Kudus juga mendorong hasil peternakan agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Salah satunya melalui pelatihan pengolahan produk hasil peternakan untuk meningkatkan nilai tambah.
Pelatihan tersebut menyasar masyarakat umum, terutama warga yang berada di sekitar sentra produksi komoditas peternakan. Sejumlah bahan seperti daging ayam, telur, dan susu kambing diberikan pelatihan untuk diolah menjadi produk dengan bentuk penyajian yang lebih modern dan memiliki nilai ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, Dispertan menggandeng Tim Penggerak PKK di tingkat desa dan kecamatan. Keterlibatan kelompok masyarakat itu diharapkan dapat memperluas keterampilan pengolahan hasil peternakan sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Kami berharap rangkaian upaya tersebut dapat membantu peternak menghadapi tantangan selama musim kemarau. Selain menjaga ternak tetap sehat dan kebutuhan nutrisinya terpenuhi, pemanfaatan pakan alternatif juga diharapkan mampu menjaga produktivitas serta menekan potensi kerugian peternak,” tandasnya.









