PATI, Kaifanews — Perkembangan teknologi digital yang semakin masif menuntut orang tua dan pendidik untuk mengubah cara mendidik anak. Di era milenium ketiga, pendekatan pendidikan tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi perlu dibarengi komunikasi yang empatik serta penguatan nilai rohani.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hal tersebut disampaikan Bunda PAUD Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat menjadi pembicara dalam talkshow Forum Komunikasi Wali Murid SD Terpadu An Nismah, Margoyoso, Pati.

Menurut Nawal, dunia digital sejatinya dapat menjadi sarana positif bagi tumbuh kembang anak apabila dikenalkan dan didampingi secara tepat oleh orang tua maupun pendidik.

“Kita ajarkan anak agar memiliki kecerdasan dalam menggunakan dunia digital, sehingga mampu berpikir kritis, memilah informasi yang benar dan hoaks. Jika informasinya tidak penting, cukup di-skip,” ujarnya pada Senin (2/2/2026).

Selain literasi digital, Nawal menekankan pentingnya menanamkan nilai ketakwaan sejak dini. Nilai tersebut, kata dia, menjadi fondasi anak dalam bersikap hati-hati, bertanggung jawab, serta bijak dalam mengambil keputusan, sejalan dengan harapan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin.

Ia menjelaskan, pendidikan anak idealnya dilandasi tiga prinsip utama, yakni komunikasi positif, disiplin positif, dan pembelajaran reflektif. Komunikasi positif, lanjut Nawal, berangkat dari empati orang tua yang mampu memahami sudut pandang anak tanpa menghakimi.

“Empati itu kuncinya orang tua mau menempatkan diri di posisi anak, bukan langsung menyalahkan,” jelasnya.

Sementara itu, disiplin positif bertujuan membangun motivasi dari dalam diri anak, sehingga aktivitas sehari-hari dilakukan dengan kesadaran, bukan paksaan.

“Dengan disiplin positif, anak akan lebih berdaya dan melakukan sesuatu karena memahami manfaatnya, bukan karena takut dimarahi,” katanya.

Adapun pembelajaran reflektif dilakukan dengan mengajak anak berdiskusi dan mencari solusi bersama ketika melakukan kesalahan.

“Supaya anak bisa berefleksi dan belajar dari setiap masalah yang dihadapi,” tambah Nawal.

Dalam kesempatan tersebut, Nawal juga berbagi tips mengoptimalkan bakat anak. Salah satunya dengan mengamati hobi dan potensi sejak usia dini, sehingga orang tua dapat mengarahkan anak sesuai minat alaminya.

Ia mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan kehendak atau ambisi pribadi dalam menentukan masa depan anak.

“Yang paling penting adalah kebutuhan anak, bukan ego atau ekspektasi orang tua,” tegasnya.