KUDUS, Kaifanews — Tren busana Ramadan kembali menghadirkan fenomena unik di Kabupaten Kudus. Menjelang Lebaran 2026, sebuah model gamis dengan julukan tak biasa, yakni “Gamis Bini Orang”, mendadak viral dan menjadi buruan berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga ibu-ibu muda.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Model gamis ini tampil dengan desain anggun berpotongan longgar namun tetap menampilkan siluet elegan. Ciri khasnya terletak pada aksen renda dan kain brukat di bagian bawah yang membentuk lengkungan setengah oval, memberikan kesan feminin sekaligus mewah.

Pilihan warna lembut seperti ivory, soft pink, hingga kuning pastel menjadi favorit pembeli selama Ramadan tahun ini. Kombinasi warna tersebut dinilai cocok digunakan untuk berbagai agenda Lebaran, mulai dari silaturahmi keluarga hingga acara halal bihalal.

Menariknya, sebutan “Gamis Bini Orang” bukanlah nama resmi produk tersebut. Busana ini sebenarnya dikenal sebagai Gamis Inara. Namun setelah viral di media sosial, julukan unik tersebut justru melekat dan membuat popularitasnya semakin meningkat di pasaran.

Tren ini bahkan sudah terasa sejak dua bulan sebelum Ramadan. Para pelaku usaha fesyen di Kudus pun bergerak cepat menambah stok agar tidak kehilangan momentum lonjakan permintaan.

Salah satu penjual busana muslim di Kudus, Ani Fitri Widayanti, mengungkapkan permintaan gamis viral tersebut meningkat tajam selama Ramadan.

“Awalnya kami stok ratusan potong, sekarang tinggal dua sampai tiga saja. Hampir setiap hari ada pembeli yang khusus mencari model ini,” ujarnya pada Selasa (3/3/2026).

Dari segi material, gamis ini menggunakan konsep double layer. Bagian dalam berbahan brukat, sedangkan lapisan luar memakai bahan tencel atau tisu yang ringan serta jatuh mengikuti bentuk tubuh. Untuk satu set, gamis tersebut dipasarkan di kisaran harga Rp260 ribu.

Selain gamis viral tersebut, sejumlah model busana lain juga ikut meramaikan tren Ramadan tahun ini. Rok Korea, abaya hitam, gamis ceruti, hingga tunik oversized menjadi pilihan alternatif masyarakat. Tren hijab pun ikut bergeser, dengan pashmina viscose dan hijab paris model klasik kembali diminati.

Salah satu pembeli, Mia Islamia, mengaku sengaja berburu gamis viral tersebut sebagai persiapan Hari Raya.

“Modelnya simpel tapi kelihatan elegan. Saya lihat di media sosial langsung tertarik dan akhirnya mencari ke beberapa toko sampai dapat,” katanya.

Lonjakan minat masyarakat membuat sejumlah toko fesyen di Kudus memperpanjang jam operasional selama Ramadan guna melayani pembeli yang terus berdatangan.

Fenomena “Gamis Bini Orang” menjadi bukti kuat bagaimana viralitas media sosial mampu memengaruhi selera fashion masyarakat sekaligus mendongkrak penjualan pelaku UMKM busana muslim menjelang Lebaran. (*)