KUDUS – Kepulan uap panas beraroma manis memenuhi sebuah rumah produksi tradisional di lereng Gunung Muria, Kecamatan Dawe, pagi ini. Cairan nira tebu yang kental perlahan berubah warna menjadi cokelat pekat di atas tungku kayu bakar yang terus menyala.
Gula Tumbu kini tetap menjadi primadona pemanis alami bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya karena memiliki cita rasa yang sangat khas. Produk ini merupakan warisan nenek moyang yang masih diproduksi secara tradisional oleh warga di kawasan Dawe hingga saat ini.
Keunggulan utama Gula Tumbu terletak pada proses pengolahannya yang murni tanpa menggunakan bahan kimia tambahan atau pengawet buatan lainnya. Hal ini membuat Gula Tumbu sering kali menjadi pilihan utama bagi industri pengolahan kecap dan jenang yang sangat legendaris.
Proses pembuatan dimulai dengan memeras batang tebu pilihan untuk mendapatkan air nira yang segar dan memiliki kualitas yang sangat baik. Cairan nira tersebut kemudian direbus dalam wajan raksasa selama berjam-jam hingga teksturnya berubah menjadi sangat kental dan lengket.
Setelah mencapai tingkat kekentalan yang tepat, adonan gula panas tersebut segera dituang ke dalam keranjang bambu berukuran besar. Keranjang bambu inilah yang disebut sebagai “tumbu”, yang sekaligus memberikan nama unik bagi produk pemanis tradisional khas daerah ini.
Seorang pengrajin gula di Desa Kandangmas menjelaskan bahwa suhu api tungku harus dijaga dengan sangat stabil selama proses pemasakan. Beliau menyebutkan bahwa penggunaan kayu bakar memberikan aroma sedap yang tidak bisa didapatkan jika menggunakan kompor gas modern saat ini.
Sifat Gula Tumbu yang padat namun mudah hancur membuatnya sangat praktis untuk digunakan dalam berbagai masakan tradisional rumah tangga. Banyak warga percaya bahwa penggunaan gula ini memberikan rasa manis yang lebih dalam dan warna masakan yang lebih cantik alami.
Pemerintah Kabupaten Kudus terus berupaya memberikan pendampingan bagi para pengrajin agar standar kebersihan produksi tetap terjaga dengan sangat baik. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar Gula Tumbu hingga ke luar daerah Jawa Tengah agar semakin dikenal luas.
Meskipun saat ini banyak pilihan gula pasir pabrikan, permintaan terhadap Gula Tumbu tetap stabil bahkan cenderung meningkat setiap tahunnya. Keberadaan industri rumahan ini juga sangat membantu perekonomian warga desa di sekitar kawasan lereng pegunungan Muria yang sangat subur.
Melestarikan Gula Tumbu berarti menjaga potongan sejarah kuliner yang telah menghidupi masyarakat Dawe selama puluhan tahun secara turun-temurun. Manisnya Gula Tumbu akan selalu menjadi pengingat akan kekayaan alam dan kreativitas luar biasa dari nenek moyang bangsa Indonesia. (*)








