KUDUS, Kaifanews — Kisah perjalanan dakwah Sunan Muria masih menjadi bagian penting dalam sejarah penyebaran Islam di kawasan lereng Gunung Muria, khususnya di wilayah Kabupaten Kudus. Cerita tentang metode dakwahnya yang membumi hingga kini terus diwariskan oleh masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tokoh yang dikenal sebagai Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam jajaran Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur, menjelaskan bahwa sosok Sunan Muria diyakini bukan berasal dari daerah setempat. Ia datang dari wilayah luar Nusantara untuk menjalankan misi dakwah Islam.

“Dari kisah yang diturunkan secara turun menurun oleh sesepuh, beliau datang dari seberang, ada yang memperkirakan dari Timur Tengah atau India bagian selatan. Yang jelas beliau datang membawa misi dakwah,” ujarnya saat ditemui pada Senin (9/3/2026).

Ia menuturkan, dalam kisah yang berkembang di masyarakat, perjalanan awal sang wali ke kawasan Muria dikisahkan membawa seekor kerbau. Hewan tersebut kemudian berhenti di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Petroko, yang berada tidak jauh dari Desa Ternadi.

Di lokasi itu sempat muncul rencana untuk membangun masjid. Namun menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Sunan Muria kemudian merasa mendapatkan petunjuk untuk melanjutkan perjalanan menuju kawasan puncak Gunung Muria.

“Sesampainya di sini, kerbau itu merumput dan berputar-putar di area sekitar 19 ribu meter persegi. Dari situlah beliau menetap, mendirikan masjid dan memusatkan dakwah Islam,” katanya.

Masjid yang berdiri di kawasan tersebut kini dikenal sebagai Masjid Sunan Muria. Lokasi itu menjadi salah satu tujuan utama ziarah wali di Jawa Tengah, sekaligus tempat dimakamkannya Sunan Muria setelah wafat.

“Karena masjidnya berada di puncak gunung, beliau kemudian dikenal luas sebagai Sunan Muria,” jelasnya.

Menurut Mastur, salah satu kekuatan dakwah Sunan Muria terletak pada pendekatannya yang sangat adaptif terhadap budaya lokal masyarakat setempat. Ia tidak serta-merta menghapus tradisi yang sudah ada, tetapi justru memanfaatkannya sebagai media dakwah. Salah satu ajaran yang terkenal hingga kini adalah konsep “Topo Ngeli”.

“Topo Ngeli itu artinya menghanyutkan diri dalam masyarakat. Beliau tidak langsung menghapus tradisi yang sudah ada, tetapi masuk, membaur, lalu mengisinya dengan ajaran Islam,” paparnya.

Selain itu, Sunan Muria juga dikenal mengajarkan filosofi sosial yang disebut “Pager Mangkok”. Ajaran ini menekankan pentingnya berbagi rezeki kepada tetangga dan masyarakat sekitar.

“Kalau kita punya rezeki, berbagi hidangan kepada sekitar. Dengan begitu hubungan sosial terjaga, hidup menjadi aman dan nyaman,” ucapnya.

Tak hanya berbicara soal dakwah tauhid dan fiqih, sejumlah petuah Sunan Muria juga berkaitan dengan kesehatan serta kelestarian alam. Salah satunya adalah anjuran mengonsumsi buah parijoto bagi ibu hamil yang hingga kini masih dipercaya masyarakat lereng Muria.

“Penelitian modern menunjukkan parijoto mengandung zat baik untuk perkembangan janin. Ini menunjukkan beliau sudah memahami manfaat alam sejak dulu,” jelasnya.

Selain parijoto, beberapa tanaman seperti daun kelor, daun dadap, hingga daun mengkudu juga sering digunakan dalam berbagai tradisi selamatan masyarakat setempat. Menurut Mastur, tanaman-tanaman tersebut tidak hanya memiliki nilai simbolik, tetapi juga manfaat kesehatan.

Bahkan terdapat pula pesan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan, seperti larangan menanam padi gogo di kawasan lereng Gunung Muria.

“Itu sebenarnya peringatan lingkungan. Kalau ladang ditanami padi gogo, tanah bisa tergerus dan berpotensi longsor,” katanya.

Meski berbagai tradisi berkembang di masyarakat, Mastur menegaskan bahwa inti ajaran Sunan Muria tetap berpusat pada penguatan tauhid dan ibadah kepada Allah SWT.

“Ajaran utamanya tetap tauhid dan fiqih. Tapi cara penyampaiannya lembut, melalui budaya, sosial, dan contoh kehidupan sederhana,” tukasnya.

Hingga kini, nilai-nilai dakwah tersebut masih terasa kuat di masyarakat sekitar lereng Gunung Muria.

“Tradisi berbagi, kebersamaan antarwarga, serta penghormatan terhadap alam menjadi bagian dari warisan yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi sampai sekarang,” tandasnya.