KUDUS, Kaifanews – Polytron Kudus Indonesia Masters 2026 berakhir dengan catatan manis bagi Indonesia. Selain sukses menarik antusiasme penonton, tuan rumah juga meraih tiga gelar juara pada turnamen bulu tangkis internasional level BWF World Tour Super 100 yang berlangsung di GOR Djarum Arena 2, Kaliputu, Kudus, 20–25 Oktober 2026.
Ketua Panitia Pelaksana Polytron Kudus Indonesia Masters 2026, Yuni Kartika, menyebut keberhasilan tersebut melampaui target awal. Menurutnya, ada dua capaian yang patut disyukuri, yakni kelancaran penyelenggaraan dan prestasi para atlet Indonesia di lapangan.
Yuni mengaku tidak menyangka turnamen Super 100 pertama yang digelar di Kudus itu mendapat sambutan penonton begitu besar. Antusiasme bahkan membuat panitia harus menyiapkan alternatif agar masyarakat tetap bisa menyaksikan pertandingan ketika arena utama penuh.
“Yang pasti sangat gembira karena dua hal. Pertama, kita sukses dalam penyelenggaraan. Kedua, kita sukses prestasi. Jujurnya, ini turnamen internasional pertama di level Super 100, tidak menyangka ternyata antusias penonton begitu luar biasa,” ujar Yuni.
Panitia sempat menayangkan pertandingan melalui layar LED di luar arena. Karena penonton terus berdatangan, panitia kemudian membuka Arena 3 agar masyarakat tetap bisa menikmati pertandingan.
“Dari kita memberikan tontonan lewat LED di luar karena penuh, sampai akhirnya kita buka lagi Arena 3 untuk mereka bisa menonton. Senang banget,” katanya.
Tiga Gelar Juara Lampaui Ekspektasi
Dari sisi prestasi, Indonesia membawa pulang tiga gelar juara melalui Richie Duta Richardo di tunggal putra, Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinnara Nastine di ganda putri, serta Muhammad Rian Ardianto/Daniel Edgar Marvino di ganda putra.
Richie merebut gelar setelah mengalahkan unggulan pertama China, Dong Tian Yao, melalui pertandingan tiga gim. Isyana/Rinjani menaklukkan pasangan Thailand, Hathaithip Mijad/Napapakorn Tungkasatan, dua gim langsung. Sementara Rian/Daniel mengamankan gelar ganda putra usai mengalahkan pasangan Korea Selatan, Jin Yong/Jo Song Hyun.
Yuni menilai pencapaian tersebut berada jauh di atas ekspektasi. Sebab, persaingan di Kudus cukup berat dengan kehadiran pemain-pemain kuat dari China, Thailand, Chinese Taipei, dan Jepang.
“Jauh di atas target. Di luar ekspektasi, karena secara komposisi peserta sebenarnya lebih berat di sini. Banyak pemain China, Thailand, kemudian Chinese Taipei dan Jepang yang menjadi tantangan utama kita,” ungkapnya.
Menurut Yuni, keberhasilan para atlet mengatasi persaingan ketat menjadi bukti bahwa mereka mampu tampil baik di hadapan publik sendiri. Ia juga menyoroti penampilan pemain muda yang menunjukkan semangat dan motivasi tinggi sepanjang turnamen.
“Ini luar biasa. Kali ini kita mendapat tiga gelar juara, dan yang menggembirakan adalah pemain-pemain muda kita seperti Richie dan Isyana. Mereka bermain sangat bersemangat,” katanya.
Ia melihat sejumlah pemain yang memiliki kedekatan dengan Kudus tampil dengan motivasi tambahan. Dukungan penonton dan suasana seperti bermain di rumah sendiri dinilai ikut menambah energi mereka saat bertanding.
Yuni juga menyebut gelar yang diraih Rian/Daniel sebagai bagian dari hasil positif Indonesia. Menurutnya, tiga gelar tersebut menjadi peningkatan yang menggembirakan setelah hasil turnamen sebelumnya di Pontianak.
Kudus Berpeluang Kembali Jadi Tuan Rumah
Keberhasilan penyelenggaraan dan prestasi atlet turut membuka peluang bagi Kudus untuk kembali menjadi tuan rumah turnamen internasional pada tahun depan. Yuni menyebut agenda bulu tangkis internasional pada 2027 masih dalam perencanaan, dengan sejumlah level kompetisi yang berpotensi digelar.
Rencana tersebut mencakup turnamen Super 500, Super 1000, International Challenge, dan International Series. Namun, kepastian penyelenggaraan serta lokasi pertandingan masih perlu dibahas lebih lanjut.
“Tahun depan turnamen internasional masih banyak, bahkan bertambah banyak. Jadi, mungkin saja kita ditunjuk untuk bisa menjadi tuan rumah lagi di Kudus. Ini sedang kita godok bersama lagi untuk membahas tempatnya,” jelas Yuni.
Besarnya jumlah animo penonton selama turnamen juga menjadi bahan evaluasi bagi panitia. Penggunaan layar LED dan pembukaan Arena 3 membantu mengakomodasi masyarakat yang ingin menyaksikan pertandingan, tetapi kebutuhan kapasitas arena ke depan tetap perlu diperhitungkan.
Yuni menyebut laporan penyelenggaraan akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk kebutuhan tempat jika Kudus kembali dipercaya menggelar turnamen internasional.
“Ini akan kita buatkan laporan untuk ke depannya. Karena tahun depan turnamen internasional masih banyak, kita perlu membahas lagi bagaimana tempat yang paling memungkinkan,” tandasnya. (*)








