KUDUS, Kaifanews – Insiden bernuansa rasis yang terjadi dalam pertandingan Persiku Kudus melawan Persipura Jayapura berbuntut sanksi tegas dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Klub berjuluk Macan Muria itu dijatuhi hukuman denda Rp250 juta serta larangan menggelar satu pertandingan kandang dengan kehadiran penonton.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Peristiwa tersebut terjadi dalam laga Pegadaian Championship 2025/2026 di Stadion Wergu Wetan, Kudus, pada 30 Januari 2026. Saat pertandingan berlangsung, sejumlah oknum suporter Persiku diduga melontarkan ucapan bernada rasis kepada tim tamu Persipura Jayapura.

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperdengarkan teriakan yang berkonotasi rasis dari tribun stadion. Bukti visual itu kemudian menjadi salah satu bahan pertimbangan Komdis PSSI dalam memutuskan adanya pelanggaran disiplin.

Dalam dokumen resmi fakta dan pertimbangan hukum, Komdis PSSI menyatakan tindakan tersebut terbukti melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025. Berdasarkan Pasal 60 ayat (2) juncto Pasal 13 ayat (2), Persiku Kudus dinilai bertanggung jawab atas perilaku suporternya.

Sanksi larangan penonton berlaku untuk satu pertandingan kandang terdekat sejak keputusan diterbitkan. Selain itu, klub juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp250 juta. Komdis turut mengingatkan bahwa pengulangan tindakan diskriminatif berpotensi berujung hukuman yang lebih berat.

Direktur Utama PT Relasi Sport Muria Indonesia, Abdul Fuad Amirul, membenarkan pihak manajemen telah menerima keputusan resmi tersebut. Ia menegaskan klub akan menghormati proses yang berjalan.

“Benar, Persiku mendapat sanksi berupa denda Rp250 juta dan larangan penonton untuk satu laga kandang. Surat dari Komdis PSSI sudah kami terima,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (6/2/2026).

Fuad menilai sanksi ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh elemen klub, terutama para pendukung setia Persiku. Menurutnya, dampak hukuman tidak hanya soal finansial, tetapi juga reputasi klub.

“Setiap rupiah denda yang dibayarkan adalah kerugian besar bagi klub. Bukan hanya soal finansial, tapi juga menyangkut citra Persiku dan suporternya di mata publik,” tegasnya.

Terkait kemungkinan banding, ia menyebut manajemen masih melakukan kajian internal sebelum mengambil langkah lanjutan.

“Kami masih mempertimbangkan opsi banding dan akan menempuh jalur resmi sesuai aturan yang berlaku,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh suporter menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum introspeksi. Fuad menekankan bahwa dukungan terhadap tim seharusnya tetap menjunjung nilai sportivitas dan kemanusiaan.

“Dukungan boleh keras, tapi harus bermartabat. Kalau benar mencintai Persiku, mari jaga ucapan dan sikap di stadion. Stop rasisme, karena yang dirugikan bukan hanya klub, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan,” tandasnya.