KUDUS, Kaifanews – Teknologi plasma ozon kini menjadi solusi inovatif untuk mengatasi masalah pascapanen, terutama dalam memperpanjang masa simpan hasil pertanian seperti sayuran dan buah-buahan. Inovasi ini bekerja dengan cara mencegah pembusukan dan menjaga kesegaran produk lebih lama, yang pada akhirnya membantu petani menjaga nilai jual saat harga pasar anjlok.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Plasma Ozon sebagai solusi untuk memperpanjang masa simpan hasil panen. Teknologi ini dinilai mampu menjaga kualitas komoditas pertanian sekaligus menekan potensi kerugian akibat pembusukan pascapanen.

Plasma ozon merupakan teknologi yang memanfaatkan gas ozon aktif untuk membunuh mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus yang menjadi penyebab utama kerusakan hasil panen. Dengan proses ini, komoditas seperti sayur, buah, hingga hasil hortikultura lainnya dapat bertahan lebih lama tanpa perlu penggunaan bahan kimia tambahan.

Penemu Teknologi Plasma Ozon untuk pertanian di Indonesia adalah Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA, seorang Guru Besar Fisika dari Universitas Diponegoro (UNDIP).

Semua bermula dari banyaknya produk pertanian yang busuk pasca panen (mencapai 20-30%), umumnya disebabkan oleh penanganan yang kurang baik, cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi, dan infeksi jamur/patogen. Kerusakan ini sering menimpa komoditas hortikultura (sayur/buah) yang bersifat perishable (mudah rusak) karena tingginya kadar air.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Diponegoro, Firmansyah, menjelaskan dalam keterangan resminya, bahwa teknologi tersebut menggunakan generator plasma ozon yang terpasang pada sistem cold storage berkapasitas dua ton. Ozon berfungsi untuk membasmi mikroorganisme penyebab pembusukan sekaligus menghilangkan sisa residu pestisida pada hasil panen.

Ia memaparkan, komoditas pertanian cukup direndam selama lima hingga sepuluh menit. Dalam proses tersebut, gas ozon (O3) bekerja sebagai disinfektan alami yang efektif untuk membunuh mikroorganisme, membersihkan residu pestisida, menjaga kualitas produk, serta memperpanjang masa simpan tanpa meninggalkan zat berbahaya karena mudah terurai menjadi oksigen.

Firmansyah menambahkan, dengan metode ini hasil pertanian seperti buah dan sayuran dapat tetap segar hingga satu bulan. Teknologi ini menjadi alternatif pengawetan yang aman, ramah lingkungan, serta mampu mempertahankan kandungan nutrisi dan kualitas sensorik pangan.

Penggunaan plasma ozon juga dinilai dapat meningkatkan nilai jual produk pertanian. Hasil panen yang lebih segar dan tahan lama tentu memiliki daya saing lebih tinggi di pasar, baik lokal maupun luar daerah. Hal ini menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperluas jangkauan distribusi.

Selain itu, teknologi ini juga mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi food loss atau kehilangan hasil pangan pascapanen. Dengan masa simpan yang lebih panjang, potensi pemborosan dapat ditekan secara signifikan.

Meski demikian, adopsi teknologi plasma ozon masih membutuhkan sosialisasi dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga pertanian. Edukasi kepada petani menjadi kunci agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ke depan, diharapkan semakin banyak petani di Kudus yang memanfaatkan inovasi ini untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Dengan dukungan teknologi yang tepat, sektor pertanian di daerah tersebut diyakini mampu berkembang lebih maju dan berkelanjutan. (*)