KUDUS, Kaifanews – Kawasan Patiayam yang selama ini dikenal sebagai gudangnya fosil purba selangkah lagi naik kelas. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jawa Tengah merekomendasikan kawasan yang membentang di Kudus dan Pati itu sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi.
Kawasan yang dimaksud meliputi Situs Perbukitan Slumprit di Desa Terban, Kabupaten Kudus dan Situs Sudo di Desa Wangunrejo, Kabupaten Pati.
Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Arief Zuli Tanjung, mengatakan rekomendasi itu lahir dari Sidang Kajian Pemeringkatan Cagar Budaya Provinsi yang digelar Disbudparekraf Jawa Tengah bersama TACB Jateng pada 23-25 Juli 2026 di Salatiga.
“Hasilnya menyepakati untuk merekomendasikan kepada Gubernur Jawa Tengah agar menetapkan Kawasan Patiayam menjadi Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi,” ujarnya pada Kamis 30 Juli 2026.
Prosesnya sendiri cukup panjang. Diawali dengan penetapan Situs Perbukitan Slumprit sebagai cagar budaya peringkat kabupaten melalui Keputusan Bupati Kudus pada 29 Desember 2025. Lalu pada Maret 2026, Pemkab Kudus mengajukan peningkatan status menjadi peringkat provinsi.
Di waktu bersamaan, Pemkab Pati juga mengajukan Situs Sudo di Desa Wangunrejo. Karena sesuai UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, gubernur berwenang menetapkan kawasan yang berada di dua kabupaten atau lebih, maka keduanya dilebur menjadi Kawasan Patiayam.
Namun penetapan resmi masih menunggu ketukan palu Gubernur Jateng.
“Masih diproses. Kita masih menunggu. Nanti kalau sudah ditetapkan baru kita mengikuti tahapan-tahapan berikutnya,” kata Arief.
Setelah ditetapkan, Disbudpar Kudus akan langsung menyusun zonasi kawasan. Tak berhenti di Slumprit, kajian situs-situs potensial lain di Patiayam juga akan dilengkapi agar bisa menyusul ditetapkan.
“Yang kemarin kita ajukan baru Situs Perbukitan Slumprit. Masih ada beberapa situs potensial lain di Patiayam yang akan kita lengkapi kajiannya sehingga nanti bisa ditetapkan sebagai cagar budaya juga,” ungkapnya.
Ia menegaskan situs di Patiayam bukan situs biasa. Ini adalah situs arkeologi yang menyimpan jejak lengkap kehidupan purba, mulai dari manusia, hewan, hingga tumbuhan. Pihaknya berharap ini menjadi pijakan untuk naik ke tingkat nasional bahkan warisan dunia.
Kepala Disbudpar Kudus Abdul Halil menambahkan, cagar budaya arkeologi ini penting bukan hanya untuk pelestarian, tapi juga edukasi.
“Ini menjadi pembelajaran untuk anak cucu kita bahwa di Kudus ada cagar budaya arkeologi seperti ini. Harapannya masyarakat ikut menjaga dan melestarikannya,” tandasnya.(*)








