KUDUS, Kaifanews — Kenaikan harga bahan baku, terutama plastik, mulai terasa menekan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Kudus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku usaha harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi yang serba sulit.

Harga plastik seperti cup minuman, sedotan, hingga kemasan sekali pakai dilaporkan mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh naiknya harga bahan baku global, biaya produksi, hingga distribusi.

Dampaknya langsung dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik sebagai bagian utama dari operasional mereka.

Bagi para penjual, situasi ini menjadi dilema. Di satu sisi, biaya produksi meningkat karena harga bahan baku melonjak. Namun di sisi lain, menaikkan harga jual berisiko menurunkan daya beli konsumen.

Tak sedikit pelaku usaha akhirnya dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual atau mengurangi volume produk yang dijual.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Hendrik Efendi, pemilik kedai minuman B Tea di Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Ia mengaku kenaikan harga bahan baku sangat mempengaruhi keberlangsungan usahanya.

“Cup itu sekarang 25 ribu isi 50 pcs. Dulu satu karton sekitar 345 ribu, sekarang bisa sampai 500 ribu,” ujarnya saat ditemui Senin 27 April 2026.

Ia menyebut, perbedaan harga juga dipengaruhi merek yang digunakan. Untuk cup dengan sablon merek tertentu, harga saat ini berkisar Rp460 ribu per karton.

Tak hanya plastik, bahan baku lain seperti gula juga mengalami kenaikan cukup tajam dan kenaikan juga terjadi pada sedotan.

“Gula pasir dulu 735 ribu per 50 kilogram, sekarang sudah 850 ribu. Saya biasanya beli satu karung. Sedotan premium dulu 22 ribu, sekarang 30 ribu per 50pcs. Yang steril polos juga sudah 29 ribu,” jelasnya.

Menurutnya, sebelum terjadi kenaikan harga bahan baku, penjualan bisa mencapai 200 cup per hari. Namun kini terjadi penurunan karena harga jual ikut naik.

“Mau tidak mau saya naikkan harga sekitar seribu rupiah per cup. Itu pun margin keuntungan sekarang cuma sekitar 500 rupiah setelah dipotong bahan baku, listrik, karyawan, dan lainnya,” paparnya.

Ia menegaskan tetap mempertahankan kualitas bahan yang digunakan meski harga naik.

“Saya tetap pakai gula asli, karena kualitas itu penting dan yang saya jual itu untuk dikonsumsi pelanggan,” ucapnya.

Hendrik berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga, khususnya bahan baku plastik. Ia juga mengkhawatirkan dampak lebih besar jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ke depan.

“Kalau bisa harga plastik jangan naik lagi. Kalau BBM ikut naik, usaha kecil seperti kami makin berat untuk bertahan,” tandasnya.

Dampak kenaikan harga ini juga dirasakan oleh konsumen. Lutfia, salah satu pembeli, mengaku perubahan harga cukup mempengaruhi kebiasaannya dalam berbelanja.

“Kenaikan harga pasti terasa. Harapannya pemerintah bisa menstabilkan harga, karena kalau sudah naik biasanya sulit turun lagi,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin berat karena pendapatan masyarakat tidak selalu ikut meningkat.

“Kalau harga naik terus, sementara pendapatan segitu-segitu saja, kebutuhan lain juga jadi terdampak,” tandasnya. (*)