KUDUS, Kaifanews — Di teras rumah sederhana di lereng Gunung Muria, suara biola mengalun pelan memecah suasana siang. Nada-nada itu bukan dimainkan musisi profesional, melainkan seorang tukang mebel yang selama belasan tahun menaruh harapan hidupnya pada ruas bambu dan potongan kayu.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Adalah Ngatmin, warga Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, yang dikenal sebagai pembuat biola bambu. Karya uniknya tak hanya menarik perhatian pecinta seni di dalam negeri, tetapi juga pernah menembus pasar Malaysia hingga Hong Kong.

Di sela kesibukannya sebagai tukang mebel, pria yang akrab disapa Mbah Min itu masih setia mengerjakan pesanan alat musik dari bengkel kayu sederhana miliknya.

Perjalanan membuat biola bermula pada 2009 saat dirinya merantau ke Bogor. Kala itu, seorang kerabat yang memiliki lembaga kursus musik menantangnya membuat sebuah biola. Tantangan tersebut justru membangkitkan rasa penasaran Mbah Min yang sejak muda akrab dengan dunia pertukangan kayu.

Namun jalan menuju keberhasilan tidak mudah. Berkali-kali ia mengalami kegagalan. Ada biola yang bentuknya tidak presisi, ada pula yang tidak menghasilkan suara sesuai harapan.

“Awalnya memang sulit. Tapi lama-lama ketemu rumusnya,” ujarnya pada Sabtu 30 Mei 2026.

Karena tidak memiliki latar belakang pendidikan musik maupun pembuatan instrumen, Mbah Min belajar secara otodidak. Ia bahkan membongkar beberapa biola buatan Eropa dan Tiongkok untuk mempelajari konstruksi serta karakter suaranya.

Sekembalinya ke Kudus, ia mulai bereksperimen menggunakan bambu petung sebagai bahan utama. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, bambu memiliki kemampuan resonansi suara yang baik sehingga mampu menghasilkan karakter nada yang khas.

Hasilnya di luar dugaan. Biola bambu buatannya menghasilkan suara lembut dengan warna bunyi yang berbeda dari biola pada umumnya. Untuk menambah nilai seni, ia melengkapi produknya dengan ukiran kepala wayang, burung garuda, hingga kuda sesuai pesanan pelanggan.

Satu unit biola bambu dibanderol antara Rp3 juta hingga Rp4 juta. Sementara biola berbahan kayu dijual lebih murah, berkisar Rp1 juta sampai Rp1,5 juta.

Pernah Gagal Berkali-kali, Kini Biola Bambu Buatan Mbah Min Jadi Kebanggaan Kudus
Ngatmin menunjukkan biola bambu hasil karyanya di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Meski harganya tidak murah, pembeli tetap berdatangan. Banyak di antaranya mengenal karya Mbah Min melalui media sosial maupun pameran UMKM.

“Pesanan pernah datang dari Malaysia sampai Hong Kong. Banyak yang tahu dari media sosial dan pameran,” katanya.

Di balik pencapaian tersebut, Mbah Min mengaku usaha kerajinan tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya pesanan sepi sehingga dirinya harus mencari sumber penghasilan lain.

Karena itu, ia terus berinovasi dengan membuat berbagai produk berbahan bambu dan limbah kayu, mulai gitar bambu, miniatur Menara Kudus, hingga ornamen seni pertunjukan.

Belum lama ini, ia mendapat pesanan sekitar 300 ornamen bambu untuk kebutuhan Tari Caping Kalo yang akan digunakan dalam kegiatan budaya di Kudus. Pesanan tersebut diperoleh melalui jaringan Dekranasda Kabupaten Kudus.

“Lumayan untuk tambahan ekonomi, nilainya sekitar empat jutaan,” ujarnya.

Baginya, tidak ada material yang terbuang sia-sia. Potongan kayu sisa pembuatan biola kembali diolah menjadi berbagai suvenir dan miniatur yang memiliki nilai jual.

Meski karyanya telah dikenal hingga luar negeri, Mbah Min masih menyimpan satu impian sederhana. Ia ingin biola bambu khas Kudus dapat diperkenalkan lebih luas kepada generasi muda dan digunakan sebagai media pembelajaran seni musik di sekolah.

“Harapan saya biola bambu ini bisa menjadi ikon Kudus dan dikenal anak-anak sekolah,” tandasnya. (*)