KUDUS, Kaifanews — Nuansa kebersamaan dan toleransi terasa kuat dalam perayaan Cap Go Meh 2026 yang digelar di Gedung Serba Guna Klenteng Hok Hien Bio, Selasa (3/3/2026) malam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kehadiran Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama Dandim 0722/Kudus dan Ketua TP PKK Kabupaten Kudus menjadi simbol dukungan pemerintah daerah terhadap keberagaman budaya dan kehidupan beragama di Kota Kretek.

Cap Go Meh yang merupakan malam ke-15 sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek berlangsung semarak meski bertepatan dengan bulan Ramadan. Masyarakat Tionghoa dan warga dari berbagai latar belakang tampak membaur menikmati pertunjukan budaya di halaman Klenteng Hok Hien Bio.

Sejak sore hari, kawasan kelenteng dipenuhi pengunjung yang ingin menyaksikan atraksi budaya khas Tionghoa. Pertunjukan barongsai yang enerjik membuka rangkaian acara, disusul penampilan wushu serta pertunjukan Giong Tunggal yang memadukan unsur seni tradisi dan semangat kebersamaan.

Dalam sambutannya, Bupati Sam’ani menyampaikan ucapan selamat kepada umat Konghucu yang merayakan Cap Go Meh. Ia menilai perayaan tersebut bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga refleksi rasa syukur sekaligus harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun baru.

“Kami mengucapkan selamat merayakan Cap Go Meh. Semoga seluruh masyarakat Kudus selalu diberi kesehatan, kesejahteraan, dan keberkahan,” ujarnya.

Bupati menegaskan bahwa toleransi antarumat beragama merupakan kekuatan utama masyarakat Kudus. Menurutnya, keharmonisan yang terus terjaga menjadi modal sosial penting dalam membangun daerah yang damai dan sejahtera.

“Ini bukti nyata bahwa Kudus adalah rumah bersama. Perbedaan bukan penghalang, justru menjadi kekayaan yang harus kita rawat bersama,” katanya.

Cap Go Meh di Tengah Ramadan, Kudus Tunjukkan Wajah Toleransi yang Menghangatkan
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dalam perayaan Cap Go Meh di halaman Klenteng Hok Hien Bio, Selasa (3/3/2026) malam. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Momentum Cap Go Meh yang berlangsung di tengah Ramadan disebutnya sebagai gambaran nyata kehidupan masyarakat Kudus yang mampu menjaga rasa saling menghormati. Tradisi budaya tetap berjalan tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah umat lain.

Sesepuh Klenteng Hok Hien Bio, Tjia Eng Bie, menjelaskan bahwa Cap Go Meh menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan Imlek yang telah berlangsung sejak awal Februari. Selain sebagai tradisi tahunan, acara tersebut juga menjadi ruang silaturahmi lintas komunitas.

Ia berharap nilai damai yang tercipta selama perayaan dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kudus.

“Cap Go Meh bukan hanya milik umat Tionghoa, tetapi menjadi perayaan kebersamaan seluruh warga. Semoga Kudus selalu aman dan penuh keberkahan,” ujarnya.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian malam itu datang dari atlet wushu muda berhijab, Laily Zuhaida (16). Mengenakan kostum bernuansa biru dengan jilbab putih, ia tampil percaya diri di hadapan ratusan penonton.

Laily mengaku bangga bisa ambil bagian dalam perayaan Cap Go Meh meski dirinya seorang muslim. Ia merasakan kuatnya nilai saling menghargai antarumat beragama di Kudus.

“Harunya bisa tampil bersama teman-teman. Walaupun saya muslim, kami tetap saling menghormati dan itu terasa sekali malam ini,” ucapnya. (*)