KUDUS, Kaifanews – Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Kejuruan Bordir kerjasama Dekranasda Kabupaten Kudus dengan Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen resmi ditutup di Pendapa Belakang Kabupaten Kudus, Senin 27 Juli 2026.
Penutupan dilakukan langsung Ketua Dekranasda Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris. Sebanyak 20 peserta yang merupakan anak putus sekolah dan latar belakang kurang mampu telah mengikuti pelatihan selama 36 hari sejak 15 Juni hingga 27 Juli 2026.
Endhah mengatakan hari ini bukan hanya penutupan, tetapi penyerahan langsung bantuan alat berupa mesin jahit bordir beserta kelengkapannya dari Kemendikdasmen untuk mendukung kemandirian peserta.
“Jadi ini kelanjutan dari program yang dari Kemendikdasmen ada pelatihan. Hari ini adalah penyerahan secara langsung alat yang dari Kemendikdasmen itu mendukung pelatihan kemarin berupa mesin bordir,” ujarnya.

Ia berharap 20 peserta bisa langsung mandiri dan menghasilkan pendapatan untuk membantu ekonomi keluarga setelah memiliki skill bordir. Dalam acara tersebut para peserta juga memamerkan hasil karya selama pelatihan mereka. Ada yang sudah menjadi baju, tempat tisu, tatakan piring, hingga tatakan gelas.
“Jadi anak-anak memang hari ini sudah memamerkan dia punya karya kemarin yang hasil pelatihan yang dipakai. Tadi sudah dijadikan baju, ada yang dijadikan tempat tisu, juga ada yang tempat tatakan piring, tatakan gelas, itu sudah ada hasilnya,” papar Endhah.
Menurutnya bantuan mesin ini diharapkan menjadi bekal hidup bagi anak-anak putus sekolah agar bisa berkarya sendiri.
“Harapan kami dengan bantuan yang di berikan ke anak-anak ini bisa dipakai untuk dia sebagai sangu urip (bekal,red) untuk bantu ekonomi keluarga. Mandiri, bisa berkarya sendiri,” imbuhnya.

Endhah juga memastikan Dekranasda dan lembaga LPKS Yoi Mandiri akan tetap mendampingi peserta, termasuk memberi akses jika ada pesanan bordir dari Dekranasda Kabupaten Kudus.
“Ini juga nanti ketika kami ada pesanan, kami usahakan untuk anak-anak dapat juga. Itu kan juga membantu dia selain mandiri juga dapat penghasilan, juga dapat mengembangkan bakat dan minat di bordir ini,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan sasaran program dan pesertanya ialah anak putus sekolah maupun tidak mampu sesuai persyaratan kementerian. Namun data peserta masih terbatas.
“Memang sasaran kami karena dari kementerian sendiri persyaratan peserta ini ditentukan dari kementerian, itu yang dicari yang anak-anak putus sekolah. Harapannya anak-anak ini supaya punya pegangan hidup, biar bisa mandiri,” katanya.
Dari 9 kecamatan di Kudus, tahun ini baru beberapa kecamatan yang datanya masuk. Padahal data Dinas Pendidikan jumlah anak putus sekolah masih banyak.
“Tapi kita hanya bisa untuk tahun ini 20 anak saja yang bisa kami bantu. Tahun ini hanya 1 kali. Harapannya nanti ada lagi tahun depan, karena masih banyak anak-anak yang butuh kami bantu lagi,” tandasnya. (*)








