KUDUS, Kaifanews — Perjalanan membangun bisnis kopi tidak selalu dimulai dari kedai dengan desain mewah, modal besar, maupun strategi bisnis yang rumit. Bagi Imam Kurniawan, pendiri No.8 Coffee sekaligus No.8 Roaster, perjalanan itu justru bermula dari warung sederhana milik sang ibu dengan modal sekitar Rp300 ribu. Kisah tersebut dibagikan dalam talk show bertajuk “Singgah, Bercerita dan Tumbuh Bersama” yang digelar Keboen Djati – Coffee and Space bersama QUBA Roastery.
Talk show tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara peresmian roastery baru milik Keboen Djati, QUBA Roastery. Sebelum sesi berbincang, kegiatan diisi kompetisi kreasi kopi susu dan battle latte art yang mempertemukan para pegiat serta penikmat kopi.
Imam hadir sebagai guest, sementara sesi talk show dipandu Alhafidz Rizal Rahfi atau Icang Gantenk, pembawa acara sekaligus salah satu penikmat kopi di Kudus. Percakapan keduanya membawa peserta menelusuri perjalanan Imam sejak mengenal kopi ketika masih kuliah di Yogyakarta hingga membangun No.8 Coffee menjadi salah satu brand kopi yang dikenal di Kudus.
Bagi Imam, hubungan dengan kopi bukan semata soal menjalankan bisnis. Ada keinginan yang lebih sederhana sekaligus panjang, yakni tetap bisa hidup dari kopi dan menjadikan kopi sebagai bagian dari kehidupannya.
“Keinginannya tetap untuk hidup dari kopi, dan kopi untuk hidup,” ujar Imam pada Rabu 19 Agustus 2026.
Perjalanan itu dimulai ketika Imam masih berada di bangku kuliah di Yogyakarta. Ia mengenal dunia kopi melalui pekerjaan part time. Ketertarikannya kemudian dibawa pulang ke Kudus setelah menyelesaikan pendidikan.
Pada 2015, Imam memberanikan diri membuka usaha kopi di Jalan Menur Nomor 8, Nganguk, Kudus. Tempat tersebut bukanlah coffee shop seperti yang banyak dikenal sekarang, melainkan warung milik ibunya yang pada waktu tertentu disulap menjadi kedai kopi.
Nama No.8 sendiri diambil dari alamat awal usaha tersebut, yakni Jalan Menur Nomor 8. Dari tempat sederhana itu, Imam memilih tumbuh secara perlahan. Keuntungan yang diperoleh dari usaha tidak langsung digunakan untuk mengambil keuntungan pribadi, tetapi kembali diputar untuk membeli peralatan dan mengembangkan kedai.
Cara bertumbuh tersebut kemudian menjadi salah satu karakter perjalanan No.8 Coffee. Dari kedai kecil, usaha berkembang hingga memiliki beberapa titik usaha dan kemudian merambah lini roasting. Pada 2021, produk biji kopi roasting No.8 bahkan telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bisnis kopi bagi Imam tidak berhenti pada menjual minuman dalam cangkir. No.8 kemudian bergerak lebih jauh ke pengolahan dan penjualan biji kopi.
Namun, semakin besar bisnis yang dibangun, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana membuat sebuah brand tetap relevan ketika tren industri kopi terus berubah.
Imam menekankan pentingnya menjaga agar No.8 tetap relevan dengan keadaan. Menurutnya, bisnis yang sudah berjalan bertahun-tahun tetap harus mampu membaca perubahan tanpa kehilangan karakter yang telah dibangun sejak awal.
Perjalanan No.8 juga tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Pada Juni 2026, misalnya, proses produksi roasting milik No.8 sempat terganggu akibat pemadaman listrik. Imam mengungkapkan, proses roasting yang terhenti mendadak dapat menyebabkan kegagalan produksi hingga puluhan kilogram biji kopi.
Hal itu menjadi gambaran bahwa di balik sebuah brand yang terlihat mapan, terdapat proses panjang dan berbagai persoalan operasional yang harus diselesaikan setiap hari.
Dalam pembicaraan mengenai bisnis, Imam juga membagikan pandangannya tentang membangun usaha bersama partner. Menurut dia, salah satu hal paling penting yang harus dibicarakan sejak awal adalah kejelasan mengenai scope atau ruang lingkup kerja serta fee.
Kejelasan tersebut menjadi penting agar setiap orang yang terlibat memahami peran, tanggung jawab, dan bentuk kerja sama sejak awal. Dengan begitu, potensi persoalan yang muncul karena perbedaan persepsi dapat diminimalkan.
Pandangan itu menjadi relevan bagi anak muda yang saat ini banyak mencoba membangun bisnis bersama teman. Sebab, hubungan pertemanan dan hubungan profesional memiliki konsekuensi yang berbeda ketika sudah masuk ke dalam sebuah usaha.
Lebih dari satu dekade perjalanan No.8 Coffee juga menunjukkan bagaimana sebuah usaha lokal dapat berkembang ketika dijalankan secara konsisten. Dari warung milik ibu, kopi manual brew, hingga lini roasting, perjalanan tersebut dibangun sedikit demi sedikit.
Di tengah semakin banyaknya kedai kopi di Kudus, cerita Imam menjadi pengingat bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang bagaimana memulai, tetapi bagaimana mempertahankannya agar tetap punya alasan untuk dipilih.
Peresmian QUBA Roastery yang dirangkai dengan kompetisi kopi dan talk show tersebut pun menjadi ruang bertemunya pengalaman lama dengan semangat baru. Para peserta tidak hanya melihat kopi sebagai produk akhir, tetapi juga mengenal cerita, proses, kegagalan, kolaborasi, dan perjalanan panjang yang berada di balik secangkir kopi.
Melalui tema “Singgah, Bercerita dan Tumbuh Bersama”, kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa ekosistem kopi dapat berkembang melalui pertemuan dan pertukaran pengalaman. Dari mereka yang baru mulai belajar, para penikmat kopi, hingga pelaku usaha yang telah bertahun-tahun menjalani industri tersebut.








