Kaifanews.com – Eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah mengungkap kerentanan besar ekonomi dunia terhadap pasokan energi dari negara-negara Teluk. Harga minyak mentah global dilaporkan melonjak tajam hingga menyentuh angka 100 dollar AS atau setara Rp1,7 juta per barel pada Kamis (12/3/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Jalur distribusi vital di Selat Hormuz kini lumpuh akibat blokade dan serangan terhadap berbagai infrastruktur energi serta kapal dagang. Asia menjadi wilayah yang paling terpukul karena hampir 90 persen pasokan minyak dan gas mereka bergantung pada jalur laut tersebut.

Negara-negara di Asia Tenggara kini menghadapi dilema besar akibat jenis kilang minyak mereka yang spesifik hanya bisa mengolah minyak mentah dari Timur Tengah. Pemerintah di berbagai negara mulai menerapkan langkah darurat, mulai dari subsidi harga hingga kebijakan penghematan energi secara masif.

Ketergantungan Asia Tenggara terhadap minyak Timur Tengah disebabkan oleh spesifikasi pabrik pengolahan atau kilang yang telah didirikan sejak lama. Peneliti senior Jane Nakano menjelaskan bahwa kilang di Asia umumnya dirancang untuk mengolah minyak mentah jenis “berat dan asam”.

“Diperlukan investasi yang signifikan untuk mengubah spesifikasi pabrik pengolahan jika ingin beralih dari minyak Timur Tengah,” ujar Jane Nakano, Peneliti Senior Program Keamanan Energi.

Hal ini membuat negara-negara di kawasan tersebut sulit untuk beralih ke pemasok lain seperti Amerika Serikat secara mendadak. Diperlukan investasi besar dan waktu yang lama untuk mengubah spesifikasi teknologi kilang agar bisa memproses jenis minyak mentah yang berbeda.

Filipina menjadi salah satu negara dengan kerentanan tertinggi karena menggantungkan 95 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah. Guna menghemat bahan bakar, pemerintah setempat telah memerintahkan pegawai negeri untuk beralih ke sistem kerja empat hari seminggu.

Vietnam melaporkan kenaikan harga solar yang sangat drastis, yakni mencapai hampir 60 persen hanya dalam waktu satu bulan terakhir. Kondisi serupa juga terjadi di Amerika Serikat dan Inggris, meskipun persentase kenaikannya tidak setinggi di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah Korea Selatan dan Jepang mengambil langkah berbeda dengan memberlakukan pembatasan harga serta memberikan subsidi kepada pedagang grosir minyak. Di Prancis, perusahaan energi raksasa TotalEnergies juga mulai memberlakukan batas atas harga bensin dan solar di seluruh SPBU mereka.

Penutupan Selat Hormuz tidak hanya memutus aliran minyak, tetapi juga mengganggu pengiriman gas alam dan kargo internasional lainnya. Jalur ini merupakan penghubung tunggal bagi Teluk Persia menuju Samudra Hindia yang sangat vital bagi perdagangan dunia.