KUDUS, Kaifanews — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus menyoroti masih kurangnya jumlah tenaga pendidik di daerah tersebut, seiring banyaknya guru yang memasuki masa pensiun setiap bulan.
Ketua PGRI Kudus Ahadi Setiawan mengungkapkan, rata-rata terdapat sekitar 25 hingga 30 guru PNS yang pensiun setiap bulan, sehingga kebutuhan tenaga pengajar belum sepenuhnya terpenuhi.
“Setiap bulan ada sekitar 25 sampai 30 guru yang pensiun. Kalau tidak diimbangi dengan penambahan guru baru, tentu kebutuhan guru akan semakin kurang,” ujarnya saat ditemui pada Minggu 6 April 2026.
Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat memberikan perhatian lebih terhadap persoalan kekurangan tenaga pendidik tersebut.
“Oleh karena itu kami berharap pemerintah kabupaten maupun pusat terus memperhatikan kekurangan guru yang ada,” katanya.
Selain itu, Ahadi juga menyoroti keberadaan guru non-paruh waktu yang jumlahnya masih cukup banyak dan belum memiliki sistem penggajian yang memadai.
“Guru non-paruh waktu masih banyak dan sistem penggajiannya masih diserahkan ke masing-masing sekolah,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sekolah harus mencari solusi mandiri agar para guru tersebut tetap dapat mengajar.
“Karena kalau tidak dipertahankan, nanti tidak ada yang mengajar. Jadi sekolah berupaya memberikan insentif melalui berbagai sumber, termasuk kegiatan kewirausahaan sekolah,” paparnya.
Ia mencontohkan di salah satu sekolah masih terdapat guru mata pelajaran yang berstatus non-paruh waktu sehingga sekolah harus berupaya keras mempertahankan mereka.
“Contohnya ada guru bahasa Jawa yang statusnya non-paruh waktu. Sekolah harus mencari cara agar mereka tetap bertahan karena memang sangat dibutuhkan,” terangnya.
Permasalahan tersebut, lanjut Ahadi, juga telah disampaikan kepada anggota DPD RI, Muhdi saat kunjungan ke Kudus agar bisa menjadi perhatian di tingkat nasional.
“Kami sudah menyampaikan persoalan guru non-paruh waktu ini agar segera ada solusi. Mudah-mudahan bisa menjadi pembahasan di tingkat nasional,” tandasnya. (*)








