KUDUS – Sosok penari muda Laras Nazila Putri (20) menjadi salah satu figur yang turut memeriahkan peluncuran Tari Caping Kalo di Kudus. Perempuan asal Tanjungkarang, Kudus itu mengaku bangga bisa terlibat dalam karya tari yang mengangkat ikon budaya lokal tersebut.
Laras, lulusan SMA 1 Mejobo tahun ajaran 2022/2023, telah lama berkecimpung di dunia tari. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia aktif menekuni seni tari dan kerap membawakan berbagai tarian khas daerah seperti tari Jenang, Kretek, Gambyong, hingga Warak Dugder.
Ia berharap seni tari di Kudus terus berkembang dengan lahirnya karya-karya baru.
“Saya berharap di Kudus akan semakin banyak tarian khas yang berkembang, supaya generasi muda makin mengenal budaya daerahnya,” ujarnya usai menampilkan peluncuran Tari Caping Kalo di Hotel @hom Kudus, Minggu (8/2/2026) malam.
Selain aktif menari, Laras juga berbagi ilmu dengan mengajar tari di sejumlah tempat, di antaranya PGSD Universitas Muria Kudus dan pernah di SD 3 Demaan, serta SMP 1 Jati.
Dalam proses persiapan Tari Caping Kalo, latihan dilakukan di dua kota, yakni Yogyakarta dan Kudus, tepatnya di RKBBR (Rumah Khalwat & Balai Budaya Rejosari) Rejosari.
Ia menjelaskan proses seleksi penari dilakukan langsung oleh koreografer Kinanti Sekar Rahina bersama tim.
“Alhamdulillah bisa lolos seleksi langsung dari Mbak Sekar, jadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” katanya.
Menurut Laras, proses latihan berlangsung sekitar satu bulan dengan intensitas latihan rutin setiap minggu. Ia mengaku mendapatkan kepuasan batin tersendiri saat tampil membawakan tarian tersebut.
“Saya sangat bangga bisa ikut terlibat langsung sebagai penari Tari Caping Kalo,” ungkapnya.
Ia menilai tari bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sarana menyampaikan pesan dan filosofi.
“Kadang sesuatu sulit disampaikan lewat kata-kata, tapi lewat gerakan tari bisa tersampaikan. Ada filosofi dan rasa yang mencerminkan diri penarinya,” jelasnya.
Dalam Tari Caping Kalo, menurut Laras, gerakan tarian menggambarkan proses pembuatan caping hingga makna kebersamaan yang utuh.
Tantangan terbesar bagi penari, kata dia, bukan hanya menghafal gerakan, tetapi menghadirkan “rasa” dalam setiap gerakan.
“Gerakan bisa dipelajari, tapi menghadirkan wirasa atau rasa itu yang sulit. Penari harus benar-benar meresapi makna tarian, kadang saya diam dulu, membaca atau merenungkan filosofinya supaya rasa itu muncul,” tuturnya.
Di tengah kesibukannya bekerja di sektor perhotelan di Kudus, Laras tetap konsisten menekuni dunia tari. Ia berharap keterlibatannya dalam Tari Caping Kalo bisa menjadi kontribusi kecil untuk menjaga dan melestarikan seni budaya daerah.








