WASHINGTON, Kaifanews.com  – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran akan segera berakhir dalam waktu dekat. Ia bahkan menyebut operasi militer AS bisa rampung dalam kurun waktu dua hingga tiga pekan ke depan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam pidato dan keterangan resmi di Gedung Putih. Ia menegaskan bahwa militer AS saat ini berada di tahap akhir operasi setelah serangkaian serangan besar terhadap target-target strategis di Iran sejak akhir Februari 2026.

Trump menyebut bahwa tujuan utama operasi militer hampir tercapai, termasuk melemahkan kemampuan militer Iran serta mencegah pengembangan senjata nuklir. Ia optimistis proses “penyelesaian misi” akan segera rampung dalam waktu singkat.

“Dalam dua minggu, mungkin sedikit lebih lama, kami akan menyelesaikan pekerjaan ini,” ujar Trump dalam pernyataan resminya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling kuat sejauh ini terkait rencana Donald Trump untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar satu bulan.

Perang di kawasan Timur Tengah sendiri bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan aksi militer serta upaya penutupan Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi global.

Konflik ini disebut-sebut telah mengguncang tatanan kawasan Timur Tengah, memicu gejolak di pasar energi global, sekaligus memengaruhi arah kepemimpinan presiden dari Partai Republik tersebut. Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa Teheran tidak harus menandatangani kesepakatan resmi dengan Washington sebagai syarat untuk mengakhiri konflik.

Penarikan Pasukan Segera Dilakukan

Selain memastikan perang akan segera berakhir, Trump juga mengisyaratkan bahwa pasukan AS akan mulai ditarik dari wilayah konflik. Ia menyatakan Amerika tidak akan terlibat lebih lama dari yang diperlukan.

Menurutnya, setelah misi militer dianggap selesai, tanggung jawab stabilitas kawasan—termasuk pengamanan jalur vital seperti Selat Hormuz—akan dialihkan kepada negara-negara lain yang berkepentingan.

Trump juga menegaskan bahwa berakhirnya operasi militer tidak sepenuhnya bergantung pada tercapainya kesepakatan dengan Iran. Ia menyebut AS tetap akan menghentikan operasi setelah target tercapai, dengan atau tanpa perjanjian damai.

Situasi Masih Memanas

Meski mengklaim konflik hampir usai, kondisi di lapangan masih menunjukkan ketegangan tinggi. Serangan militer masih berlangsung dan berpotensi meningkat dalam beberapa minggu ke depan.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat masih melanjutkan serangan intensif untuk menekan Iran agar segera menyetujui kesepakatan. Bahkan, Trump memperingatkan kemungkinan serangan yang lebih keras dalam waktu dekat jika tidak ada titik temu.

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan untuk menghadapi konflik dalam jangka panjang dan menolak tunduk pada tekanan militer. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian terkait klaim berakhirnya perang dalam waktu dekat.

Alih-alih jalur meja perundingan, Trump memaparkan bahwa syarat utama untuk menghentikan operasi militer adalah memastikan Iran kehilangan kemampuan untuk memiliki senjata nuklir dalam waktu dekat.

Dampak Global dan Kekhawatiran Dunia

Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari tersebut telah memicu dampak global, termasuk lonjakan harga energi dan gangguan distribusi minyak dunia akibat terganggunya jalur pelayaran di Timur Tengah.

Meski Trump menyebut operasi militer hampir selesai, sejumlah analis menilai belum ada kejelasan strategi keluar (exit strategy) yang konkret dari AS.

Dengan perkembangan yang masih dinamis, klaim berakhirnya perang dalam dua hingga tiga pekan ke depan masih menjadi perhatian dunia internasional. Banyak pihak menilai situasi tetap berisiko tinggi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika politik dan militer di kawasan. (*)