KUDUS, Kaifanews — Para peserta Audisi Umum PB Djarum Kudus 2026 tidak hanya diikuti oleh atlet yang baru pertama bertanding. Banyak juga dari mereka yang kembali datang meskipun harus menempuh perjalanan jauh dari luar pulau menuju ke GOR Jati, Kudus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Semangat dan perjuangan untuk kembali mencoba ditunjukkan  oleh para peserta yang berjuang merebut Super Tiket untuk mendapatkan Beasiswa PB Djarum.

Salah satunya ialah Yukiko Graciela Manangkot. Pebulutangkis asal Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, tersebut kembali mencoba peruntungannya setelah sebelumnya mengikuti Audisi Umum PB Djarum Makassar pada Agustus 2026.

Di Makassar, Yukiko sebenarnya sudah melangkah cukup jauh hingga semifinal. Namun, capaian tersebut belum cukup untuk membawanya mendapatkan Super Tiket.

Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Yukiko kembali datang ke Kudus dan memulai perjuangan dari tahap screening untuk kategori KU-12.

Langkah pertamanya di Kudus berjalan mulus. Yukiko berhasil mengalahkan Diandira Bilqis Ufaira asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan skor 21-13 dan berhak melanjutkan proses seleksi.

Keinginannya bergabung dengan PB Djarum semakin kuat karena dukungan penuh dari orang tua. Bagi Yukiko, dukungan tersebut menjadi modal penting untuk terus mencoba meski sebelumnya belum berhasil.

“Aku ingin sekali bergabung dengan PB Djarum karena fasilitas dan latihannya pasti terjamin. Orang tua juga sudah mendukung penuh. Selalu mengantar latihan, sampai ikut Audisi Umum PB Djarum di Kudus ini supaya bisa menjadi pemain top dunia,” kata Yukiko pada Kamis 10 September 2026. 

Yukiko yang mengidolakan pebulutangkis Jepang Chiharu Shida itu menyadari perjalanan menuju level yang diimpikannya masih panjang. Namun, pengalaman dari audisi sebelumnya justru menjadi bekal untuk menghadapi persaingan di Kudus.

“Kesempatan ikut audisi ini akan jadi pengalaman berharga aku untuk terus berlatih dan pantang menyerah hingga mencapai targetku sendiri,” katanya.

Cerita perjuangan juga datang dari Lusia Maheswari Gracia Pengajeng. Pebulutangkis asal Magelang itu kembali mengikuti audisi di kelompok usia KU-12 setelah tahun lalu belum berhasil melewati Tahap Turnamen.

Kegagalan tersebut justru membuat Gracia datang ke Kudus dengan persiapan yang lebih serius. Ia membawa target besar untuk suatu hari menjadi pemain bulutangkis dunia.

“Mimpi terbesar saya pastinya mau jadi pemain dunia. Makanya saya mau masuk PB Djarum karena banyak yang jadi pemain dunia dari sini. Tahun lalu saya belum bisa lolos karena kalah di Tahap Turnamen. Tapi saya mau membuktikan diri, makanya mau ikut lagi tahun ini,” ucap Gracia.

Persiapan pun dilakukan Gracia dengan meningkatkan latihan dan menjaga pola hidup. Sepulang sekolah, ia rutin berlatih dan membatasi penggunaan ponsel agar konsentrasinya tidak terganggu.

“Saya latihan satu kali sehari setelah pulang sekolah. Selama persiapan ke Kudus, penggunaan ponsel juga dibatasi dan makanan harus dijaga. Supaya bisa fokus dan lebih siap secara fisik,” tandasnya.

Rangkaian Audisi Umum PB Djarum 2026 Kudus akan berlanjut ke fase turnamen yang dihelat selama tiga hari yakni sejak Jumat hingga Minggu 11-13 September. Di hari terakhir turnamen, akan diumumkan peserta yang berhak meraih Super Tiket dan meneruskan perjuangannya ke tahap karantina. Untuk mengamankan Super Tiket, peserta putra wajib menembus babak semifinal. Sedangkan untuk pebulutangkis putri, Super Tiket akan diberikan bagi pebulutangkis muda yang sukses mencapai babak final.

Selain melalui jalur kemenangan di lapangan, peluang bergabung dengan PB Djarum masih terbuka melalui Super Tiket Pilihan Tim Pencari Bakat yang diberikan kepada peserta dengan potensi menjanjikan guna diasah lebih lanjut, meskipun gagal lolos ke semifinal ataupun final pada Tahap Turnamen.

Super Tiket bukan akhir dari perjuangan bergabung dengan PB Djarum. Para peserta akan menjalani tahap karantina selama empat pekan di asrama PB Djarum. Selama itu, mereka akan menjalani kehidupan sehari-hari sebagai atlet PB Djarum dan memperoleh penilaian atas kedisiplinan, teknik serta kualitas yang dimiliki sebelum akhirnya dinyatakan sebagai atlet binaan PB Djarum.