KUDUS, Kaifanews — Kisah perjalanan dakwah Sunan Muria masih menjadi bagian penting sejarah Islam di kawasan lereng Gunung Muria, khususnya di wilayah Kabupaten Kudus. Cerita tentang metode dakwahnya yang membumi hingga kini terus diwariskan masyarakat sekitar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur, menjelaskan bahwa tokoh yang dikenal sebagai Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said. Menurutnya, sosok tersebut diyakini bukan penduduk asli setempat.

“Beliau datang dari seberang, ada yang memperkirakan dari Timur Tengah atau India bagian selatan. Yang jelas beliau datang membawa misi dakwah,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (18/2/2026).

Mastur menuturkan, perjalanan awal sang wali dikisahkan membawa seekor kerbau yang akhirnya berhenti di kawasan Petroko, wilayah dekat Desa Ternadi.

Di lokasi itu sempat muncul rencana pembangunan masjid, namun kemudian beliau merasa mendapat petunjuk untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Muria.

“Sesampainya di sini, kerbau itu merumput dan berputar-putar di area sekitar 19 ribu meter persegi. Dari situlah beliau menetap, mendirikan masjid dan memusatkan dakwah Islam,” katanya.

Masjid yang berdiri di lokasi tersebut kini dikenal sebagai Masjid Sunan Muria dan menjadi salah satu tujuan ziarah Wali Songo di Jawa Tengah. Di tempat itulah pula Sunan Muria wafat dan dimakamkan.

“Karena masjidnya berada di puncak gunung, beliau kemudian dikenal luas sebagai Sunan Muria,” jelasnya.

Kompleks Masjid dan Makam Sunan Muria yang terletak di puncak Gunung Muria, Kabupaten Kudus.

Menurut Mastur, pendekatan dakwah Sunan Muria terkenal adaptif terhadap budaya lokal. Salah satu ajaran yang populer adalah “Topo Ngeli”.

“Topo Ngeli itu artinya menghanyutkan diri dalam masyarakat. Beliau tidak langsung menghapus tradisi yang sudah ada, tetapi masuk, membaur, lalu mengisinya dengan ajaran Islam,” paparnya.

Metode lain yang dikenal adalah “Pager Mangkok”, yakni ajaran memperbanyak sedekah kepada tetangga.

“Kalau kita punya rezeki, berbagi hidangan kepada sekitar. Dengan begitu hubungan sosial terjaga, hidup menjadi aman dan nyaman,” ucapnya.

Selain dakwah tauhid dan fiqih, sejumlah petuah Sunan Muria juga berkaitan dengan kesehatan serta kelestarian alam. Salah satunya anjuran konsumsi buah parijoto bagi ibu hamil.

“Penelitian modern menunjukkan parijoto mengandung zat baik untuk perkembangan janin. Ini menunjukkan beliau sudah memahami manfaat alam sejak dulu,” jelasnya.

Tradisi penggunaan daun kelor, daun dadap, hingga daun mengkudu dalam selamatan juga disebut memiliki manfaat kesehatan. Bahkan ada pesan agar tidak menanam padi gogo di lereng Muria.

“Itu sebenarnya peringatan lingkungan. Kalau ladang ditanami padi gogo, tanah bisa tergerus dan berpotensi longsor,” katanya.

Meski banyak tradisi berkembang, Mastur menegaskan inti ajaran Sunan Muria tetap pada penguatan tauhid dan ibadah.

“Ajaran utamanya tetap tauhid dan fiqih. Tapi cara penyampaiannya lembut, melalui budaya, sosial, dan contoh kehidupan sederhana,” tandasnya.

Hingga kini, nilai-nilai dakwah tersebut masih terasa di masyarakat sekitar lereng Muria. Tradisi sedekah, kebersamaan, serta penghormatan pada alam menjadi bagian warisan yang terus dijaga lintas generasi.