KUDUS, Kaifanews — Aktivitas para pedagang kaki lima di Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota Kudus mendadak geger setelah seorang penjual molen ditemukan meninggal dunia di dekat gerobaknya, Minggu pagi 17 Mei 2026.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Korban diketahui berinisial AS 54 tahun, warga Kecamatan Welahan, Jepara. Sehari-hari ia berjualan molen di area tanah inventaris Yayasan TBS Kudus, tepatnya di belakang MTs dan TBS Kajeksan.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Sebelum jatuh tak sadarkan diri, korban sempat mengeluhkan pusing kepada rekan sesama pedagang saat sedang menyiapkan adonan dagangannya.

“Sempat bilang pusing karena vertigo yang sering kambuh,” ujar salah seorang pedagang di lokasi.

Tak lama berselang, korban mendadak roboh di samping gerobaknya. Rekan pedagang yang panik langsung berusaha memeriksa kondisi korban, namun denyut nadinya sudah tidak terasa.

Warga kemudian menghubungi perangkat kelurahan, Bhabinkamtibmas, serta ambulans relawan untuk meminta bantuan.

Mendapat laporan dari masyarakat, Kapolsek Kudus AKP Subkhan bersama anggota SPKT dan piket fungsi langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Pedagang Molen di Kajeksan Mendadak Pingsan dan Tak Tertolong di Samping Gerobak
Petugas kepolisian melakukan olah TKP di lokasi pedagang molen yang meninggal mendadak di Kelurahan Kajeksan, Kudus. Dok: Polsek Kudus

Petugas kepolisian juga berkoordinasi dengan Tim Inafis Polres Kudus dan tenaga medis dari Puskesmas Purwosari guna memastikan penyebab meninggalnya korban.

“Begitu menerima laporan, kami langsung menuju lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan memastikan situasi tetap kondusif,” ujar AKP Subkhan.

Dari hasil pemeriksaan medis luar dan identifikasi awal, polisi tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan pada tubuh korban.

Petugas hanya menemukan luka memar di bagian dahi kanan yang diduga akibat benturan saat korban terjatuh.

“Korban diduga meninggal dunia karena penyakit bawaan yang kambuh secara mendadak, yakni hipertensi dan vertigo,” jelasnya.

Pihak keluarga yang datang ke lokasi menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Penolakan itu diperkuat dengan surat pernyataan resmi dari keluarga.

Selanjutnya jenazah korban dievakuasi menggunakan ambulans relawan menuju rumah duka untuk dimakamkan.

Penanganan cepat aparat kepolisian dan warga membuat situasi di lokasi tetap aman dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. (*)