LONDON – Presiden Prabowo Subianto secara tegas menabuh genderang perlawanan terhadap dominasi impor teknologi dengan menyaksikan langsung penandatanganan kemitraan strategis antara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan ARM Indonesia di Istana Negara, Selasa (24/2/2026).
Visi besar ini menempatkan industri semikonduktor sebagai jantung dari hilirisasi industri berteknologi tinggi yang menjadi prioritas utama kabinet Prabowo. Presiden menekankan bahwa Indonesia harus berani melakukan lompatan kuantum agar tidak terus-menerus menjadi penonton di tengah perlombaan teknologi dunia yang kian kompetitif.
Pemerintah melalui Danantara akan menyuntikkan modal investasi strategis untuk membangun ekosistem desain dan manufaktur cip yang mumpuni secara global. ARM, sebagai pemegang lisensi arsitektur komputasi dunia, akan memberikan akses teknologi yang memungkinkan para insinyur lokal merancang cip secara mandiri.
“Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang teknologi. Kita tidak boleh lagi terjebak menjadi negara yang hanya bisa membeli produk jadi tanpa menguasai otaknya, yaitu semikonduktor,” tegas Presiden Prabowo Subianto dalam arahannya.

Presiden menambahkan bahwa kedaulatan teknologi adalah harga mati jika Indonesia ingin menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di kancah global. Ia menginstruksikan agar kemitraan ini segera diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang melibatkan bakat-bakat muda terbaik bangsa.
“Hari ini kita kirimkan pesan kepada dunia bahwa Indonesia siap menjadi pemain utama. Kita memiliki sumber daya, kita memiliki kemauan, dan sekarang kita memiliki kemitraan strategis untuk mewujudkannya,” ujar Presiden Prabowo dengan nada optimis.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan bahwa skema pendanaan ini dirancang untuk menciptakan efek domino bagi industri komponen elektronik dalam negeri. Investasi ini tidak hanya menyasar pada pembangunan pabrik, tetapi juga pada penguasaan hak kekayaan intelektual desain cip nasional.
“Kemitraan dengan ARM adalah kunci pembuka pintu bagi Indonesia untuk masuk ke dalam elite global produsen cip. Danantara hadir untuk memastikan bahwa pendanaan ini menjadi modal utama perlawanan kita terhadap ketergantungan impor,” ungkap Rosan Perkasa Roeslani Kepala BPI Danantara.
Pihak ARM Indonesia menyambut baik visi pemerintah dan berkomitmen memberikan transfer pengetahuan secara menyeluruh. Mereka menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat keunggulan desain semikonduktor di kawasan Asia Tenggara.








