KUDUS, Kaifanews – Tradisi sedekah kubur atau kenduri massal kembali digelar warga Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Jumat (13/2) usai azan Asar. Puluhan warga memadati Punden Raden Ayu Serimpi yang diyakini sebagai tokoh cikal bakal desa tersebut.
Kegiatan tahunan ini menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud rasa syukur masyarakat setempat.
Warga Bawa Ingkung dan Suwiwi Ayam
Dalam pelaksanaannya, warga membawa dua jenis bekal. Pertama, ingkung ayam lengkap dengan nasi putih yang ditempatkan dalam embor. Kedua, sepotong sayap ayam atau suwiwi yang dibungkus menggunakan kertas atau daun pisang, yang oleh warga disebut sebagai “wajib”.
Tokoh masyarakat Desa Karangbener, Afif, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan tetap dilestarikan hingga kini.
“Biasanya warga Karangbener membawa dua bekal, yakni ingkung dengan nasi yang ditaruh di sebuah wadah embor dan sepotong sayap ayam yang dibungkus kertas atau daun pisang yang disebut wajib,” ujarnya.
Setelah doa bersama dipanjatkan di area makam, ingkung akan dibawa pulang oleh masing-masing warga. Sementara suwiwi di tinggal di punden.
Digelar Setiap Tahun Bersamaan Tradisi Desa Lain
Kenduri suwiwi merupakan agenda rutin tahunan Desa Karangbener. Waktu pelaksanaannya kadang bersamaan dengan tradisi sewu sempol yang digelar di Desa Kandangmas kadang selang satu hari.
Juru kunci makam, Kusno, menuturkan bahwa inti kegiatan ini adalah mendoakan arwah leluhur dan memohon keberkahan bagi masyarakat desa.
“Untuk kegiatannya sama, yang intinya mendoakan arwah leluhur. Hanya saja di sini yang dibawa adalah suwiwi beserta nasi putih yang dibungkus kertas atau daun pisang. Menurut cerita nenek moyang, hal itu merupakan pesan dari Raden Ayu Serimpi,” jelasnya.
Perkuat Nilai Kebersamaan dan Spiritualitas
Tradisi sedekah kubur kenduri suwiwi tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi antarwarga. Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Karangbener tetap menjaga warisan budaya ini sebagai bagian dari identitas dan kekayaan tradisi lokal Kudus.








