JEPARA, Kaifanews — Tradisi Kirab Kerbau kembali meramaikan rangkaian Pesta Lomban Syawalan 2026 di Kabupaten Jepara dengan menghadirkan inovasi baru berupa kirab kerbau bule, Jumat, 27 Maret 2026.
Prosesi ini langsung menyedot perhatian ribuan warga dan menjadi salah satu daya tarik utama perayaan tahun ini.
Kerbau bule dengan bobot sekitar 800 kilogram dan usia kurang lebih empat tahun tersebut dikirab sejauh lebih dari satu kilometer, mulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jobokuto menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di kawasan Rusunawa Jepara.
Kirab diikuti langsung Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Bupati M Ibnu Hajar, Sekretaris Daerah Ary Bachtiar, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Sepanjang rute kirab, ribuan masyarakat tampak memadati jalur yang dilalui, sementara pengamanan melibatkan puluhan personel TNI dan Polri.
Saat melintasi kawasan Jembatan Cinta, rombongan kirab terlihat mengular panjang dengan kerbau bule yang didominasi warna putih menjadi pusat perhatian masyarakat. Kehadiran tradisi ini tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.
Aktivitas pelaku UMKM, khususnya pedagang makanan dan minuman di sepanjang rute kirab, mengalami peningkatan seiring membludaknya jumlah pengunjung yang datang menyaksikan prosesi tersebut.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan Kirab Kerbau dalam Pesta Lomban bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian penting dari warisan budaya masyarakat pesisir yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
“Kirab ini merupakan tradisi yang sarat makna dan menjadi identitas budaya masyarakat pesisir Jepara. Kehadiran kerbau bule tahun ini melambangkan semangat baru dan kekuatan untuk terus melestarikan tradisi,” ujarnya.
Ia menjelaskan kirab tersebut juga menjadi simbol keterbukaan kepada masyarakat, khususnya terkait prosesi pelarungan kerbau dalam tradisi Lomban.
“Kerbau yang dilarung merupakan satu kesatuan utuh. Ini bentuk transparansi sekaligus upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap tradisi yang diwariskan turun-temurun,” jelasnya.
Setelah terakhir kali digelar pada 2019, Kirab Kerbau kembali dilaksanakan pada 2026 sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Jepara dalam menghidupkan kembali tradisi lokal sekaligus memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya.
Pemerintah daerah juga berencana melakukan penataan lebih lanjut agar tradisi tersebut mampu memberikan dampak lebih besar terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
“Ke depan akan kita tata lebih baik agar berdampak pada peningkatan kunjungan wisata dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tegasnya.
Pesta Lomban sendiri merupakan wujud rasa syukur masyarakat pesisir atas hasil laut sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan para nelayan Jepara.
“Tradisi ini harus terus kita jaga bersama sebagai kekuatan budaya sekaligus potensi wisata daerah,” tandasnya. (*)








