KUDUS, Kaifanews — Sosok Sunan Kudus kembali menjadi perbincangan dalam kajian pendidikan dan kebudayaan modern. Melalui simbol Menara Kudus serta nilai sosial yang diwariskannya, tokoh Wali Songo tersebut dinilai telah merumuskan konsep pendidikan moderat jauh sebelum istilah moderasi beragama dikenal dalam dunia akademik masa kini.
Pengasuh pesantren sekaligus akademisi Kudus, Ahmad Bahruddin, menilai Sunan Kudus bukan hanya ulama penyebar Islam, melainkan intelektual peradaban yang mampu membaca dinamika sosial masyarakat pada zamannya.
“Sunan Kudus adalah pendidik peradaban. Ia tidak hanya mengajarkan teks keagamaan, tetapi juga memahami konteks sosial masyarakatnya,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Pendekatan pendidikan Sunan Kudus tercermin kuat pada arsitektur Menara Kudus yang memiliki kemiripan dengan bangunan candi Hindu-Buddha. Bangunan tersebut dinilai bukan sekadar karya arsitektur, melainkan simbol strategi dakwah yang mengedepankan dialog budaya.
Menurut Bahruddin, menara tersebut menjadi representasi pendidikan kultural yang menjadikan budaya lokal sebagai jembatan komunikasi keagamaan.
“Menara Kudus adalah tesis visual. Ia mengajarkan bahwa agama tidak harus hadir dengan merusak simbol budaya yang sudah hidup di masyarakat,” jelasnya.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana proses islamisasi di Kudus berjalan secara damai dan inklusif, tanpa menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat yang saat itu masih kuat dengan tradisi lama.
Salah satu kebijakan Sunan Kudus yang masih dikenal hingga kini ialah larangan menyembelih sapi di wilayah Kudus. Kebijakan tersebut, menurut Bahruddin, merupakan strategi pendidikan sosial yang sangat maju pada masanya.
“Itu bukan kompromi akidah, melainkan empati. Sunan Kudus mengajarkan bahwa kemuliaan agama tidak boleh dibangun di atas luka sosial,” tegasnya.
Kebijakan tersebut dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu yang memuliakan sapi, sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan agama dapat berjalan berdampingan dengan nilai toleransi sosial.
Warisan pendidikan Sunan Kudus juga hidup dalam filosofi Gusjigang—Bagus, Ngaji, dan Dagang—yang hingga kini melekat kuat dalam karakter masyarakat Kudus.
Bahruddin menyebut Gusjigang bukan sekadar slogan budaya, melainkan konsep pendidikan menyeluruh yang menggabungkan moralitas, intelektualitas, dan kemandirian ekonomi.
“Gusjigang ini memang bukan teks resmi, tetapi ia adalah kurikulum kehidupan. Nilai moral, intelektual, dan kemandirian ekonomi dirajut menjadi satu,” paparnya.
Filosofi tersebut menjelaskan mengapa masyarakat Kudus dikenal memiliki religiositas tinggi sekaligus etos kewirausahaan yang kuat. Aktivitas ibadah dan produktivitas ekonomi tidak dipisahkan, tetapi saling memperkuat.
Lebih jauh, Sunan Kudus dipandang sebagai intelektual organik yang tidak berjarak dengan masyarakat. Ilmu yang diajarkan selalu diarahkan pada solusi nyata bagi kehidupan sosial.
“Beliau tidak hidup di menara gading. Ilmu yang diajarkan selalu berujung pada kemaslahatan masyarakat,” ucapnya.
Di tengah tantangan pendidikan modern yang kerap memisahkan pendidikan karakter dan pendidikan vokasi, warisan pemikiran Sunan Kudus justru menawarkan jalan tengah yang relevan.
“Sunan Kudus sudah memberi contoh lima abad lalu. Pendidikan harus melahirkan manusia yang saleh, cerdas, dan mandiri secara ekonomi,” tandasnya.








