JAKARTA, Kaifanews – Munculnya kabar mengenai varian baru COVID-19 yang dijuluki “Cicada” tengah menjadi perhatian publik. Informasi yang beredar di berbagai platform digital memicu kekhawatiran masyarakat, terutama terkait potensi penyebaran dan karakteristik gejala yang ditimbulkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa varian “Cicada” diduga memiliki pola gejala yang sedikit berbeda dibandingkan varian sebelumnya.

Dijuluki “Cicada”, BA.3.2 masuk dalam daftar varian yang dipantau oleh Centers for Disease Control and Prevention dan World Health Organization, seiring peningkatan penyebarannya secara internasional sejak akhir tahun lalu. Meskipun pertama kali terdeteksi pada 2024, varian ini baru-baru ini mulai menyumbang jumlah infeksi yang signifikan, bahkan mencapai hingga 30% kasus Covid-19 di beberapa negara Eropa Timur per Februari.

Para ahli menyebut sifat mutasi BA.3.2 membuatnya lebih efektif dalam menghindari perlindungan vaksin maupun sistem kekebalan tubuh yang sudah terbentuk dari infeksi sebelumnya. Hal ini berpotensi memicu lonjakan kasus kembali dalam beberapa bulan ke depan.

Mengacu pada laporan The Conversation (28 Maret 2026), profesor kedokteran dari University of Virginia, Kyle B. Enfield, menyebut bahwa varian ini sudah ditemukan sejak November 2024 di Afrika Selatan. Setelah itu, penyebarannya berlangsung perlahan dan sempat tidak terpantau dalam jangka waktu cukup lama, sebelum kembali meningkat pada periode 2025 hingga 2026. Para pakar menilai pola kemunculannya menyerupai serangga cicada yang baru muncul ke permukaan setelah lama bersembunyi.

Gejala yang dikaitkan dengan varian ini antara lain demam ringan hingga tinggi, batuk kering, kelelahan, serta sakit tenggorokan. Selain itu, beberapa kasus juga melaporkan munculnya nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pada indera penciuman dan perasa. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami sesak napas yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa mutasi virus merupakan hal yang wajar terjadi. Namun, penting bagi masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan, serta memastikan ventilasi ruangan tetap baik.

Pemerintah dan tenaga medis juga terus memantau perkembangan varian baru ini guna memastikan langkah mitigasi yang tepat dapat segera diterapkan.

Masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Informasi resmi dari lembaga kesehatan terpercaya menjadi rujukan utama agar tidak terjebak dalam hoaks atau kabar yang belum terverifikasi.

Dengan mengenali gejala sejak dini dan menjaga pola hidup sehat, diharapkan potensi penyebaran varian baru seperti “Cicada” dapat diminimalkan. (*)