KUDUS, kaifanews – Sebanyak 60 mahasiswa Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) sukses menyelesaikan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di sejumlah Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Program ini menjadi salah satu tahapan penting dalam membentuk calon apoteker yang profesional, kompeten, dan siap terjun ke dunia kerja.
Dekan Fakultas Farmasi UMKU, apt. Muhammad Nurul Fadel, M.Farm., mengatakan bahwa PKPA angkatan ke-13 berlangsung mulai 8 Juni hingga 4 Juli 2026 dan diikuti seluruh mahasiswa tanpa kendala berarti.
“Praktik Kerja Profesi Apoteker angkatan ini dilaksanakan mulai 8 Juni sampai dengan 4 Juli 2026. Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan praktik kerja kali ini melibatkan 14 Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Pulau Jawa sebagai mitra pembelajaran. Beberapa di antaranya yakni PBF PT Graha Asih Jaya Semarang, PBF Kalikangkung Perkasa Surabaya, PBF Marga Nusantara Jaya Madiun, PBF Tirta Husada Farma Pati, PBF Enseval Putera Megatrading Kudus, serta PBF Demak Sarana Sehat Demak.
Melalui praktik tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai sistem distribusi obat yang sesuai dengan standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Mereka tidak hanya mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi juga terlibat dalam berbagai proses operasional yang menjadi bagian penting dalam rantai distribusi obat.
Fadel menjelaskan, mahasiswa dibimbing untuk memahami setiap tahapan distribusi obat, mulai dari proses pemesanan, penerimaan barang, pemeriksaan jumlah dan kondisi obat, pengecekan kesesuaian produk, penanganan obat yang mengalami penyimpangan, hingga proses penyaluran ke berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
“Melalui praktik kerja profesi ini, mahasiswa dapat memahami secara menyeluruh bagaimana proses distribusi obat berlangsung. PBF memiliki peran penting sebagai pengendali mutu obat dari industri farmasi sebelum didistribusikan ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun tingkat lanjutan,” jelasnya.
Selain memperdalam pemahaman mengenai sistem distribusi obat, praktik kerja ini juga memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan di lapangan.
Salah satu tantangan yang dihadapi selama praktik adalah pengelolaan Cold Chain Product (CCP) atau produk yang harus disimpan pada suhu tertentu. Produk jenis ini memerlukan penanganan khusus karena sangat rentan mengalami penurunan kualitas apabila proses penyimpanan maupun distribusinya tidak sesuai standar.
Usai menyelesaikan praktik di Pedagang Besar Farmasi, perjalanan pendidikan profesi para mahasiswa belum berakhir. Mereka masih akan mengikuti beberapa tahapan praktik profesi lainnya sebagai bagian dari proses pembentukan kompetensi seorang apoteker.
Tahapan tersebut meliputi praktik di Puskesmas, Klinik Herbal, Rumah Sakit, hingga Industri Farmasi, termasuk mempelajari proses produksi dan peracikan obat sesuai standar kefarmasian.
Fadel berharap seluruh rangkaian praktik profesi yang akan dijalani mahasiswa dapat berlangsung dengan baik sehingga mampu mencetak lulusan apoteker yang memiliki kompetensi tinggi, profesional, serta siap memberikan pelayanan kefarmasian yang berkualitas kepada masyarakat.
“Semoga seluruh rangkaian praktik profesi berikutnya dapat berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi mahasiswa Profesi Apoteker UMKU, sehingga mereka siap menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan berintegritas,” pungkasnya. (*)








