KUDUS, Kaifanews — Forum Anak Kabupaten Kudus menghadirkan cara berbeda dalam mengedukasi anak-anak berkebutuhan khusus mengenai bahaya perundungan (bullying) dan pentingnya mengenali area tubuh yang tidak boleh disentuh sembarangan. Edukasi tersebut digelar di SLB Purwosari Kudus sebagai bagian dari program Forum Anak Goes to School bersama Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DINSOSP3AP2KB) Kabupaten Kudus.
Berbeda dengan penyuluhan pada umumnya yang dilakukan melalui presentasi atau pembacaan materi, Forum Anak Kudus mengemas edukasi dengan lagu, gerakan tubuh, permainan interaktif, hingga tanya jawab agar lebih mudah dipahami oleh para siswa SLB. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan berbagai bentuk perundungan, cara mencegahnya, langkah yang harus dilakukan ketika menjadi korban maupun saksi, hingga edukasi mengenai batas aman anggota tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain tanpa izin.
Ketua Forum Anak Kabupaten Kudus, Sophia Widya Rani, mengatakan metode belajar yang menyenangkan dipilih karena dinilai lebih efektif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Anak-anak di SLB memiliki cara belajar yang berbeda. Karena itu kami tidak menyampaikan materi dengan membacakan atau mempresentasikan isi materi, melainkan melalui nyanyian, gerakan badan, dan permainan. Dengan cara tersebut mereka lebih mudah memahami pesan yang ingin kami sampaikan,” ujarnya disela kegiatan pada Jumat 17 Juli 2026.
Menurut Sophia, edukasi mengenai perundungan perlu dikenalkan sejak dini agar anak mampu membedakan tindakan yang termasuk bullying dan yang bukan. Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan keberanian anak untuk melapor apabila mengalami maupun menyaksikan perundungan.
Selain itu, Forum Anak juga mengenalkan konsep perlindungan diri melalui pemahaman tentang bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain.
“Edukasi seperti ini diberikan menggunakan bahasa sederhana dan gerakan yang mudah diingat sehingga anak dapat memahami cara menjaga diri serta berani mengatakan tidak ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman,” paparnya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diajak mengikuti berbagai permainan edukatif untuk mengenali contoh perilaku bullying, seperti mengejek teman, mengucilkan teman, hingga perundungan melalui media sosial.
“Teman-teman disini kami ajak memahami bahwa candaan yang membuat seseorang sedih, takut, atau malu bukan lagi sekadar candaan, melainkan termasuk bentuk perundungan,” jelasnya.
Pihaknya juga mengajak para siswa membangun kebiasaan saling menghargai, menggunakan kata-kata yang baik, berani menghentikan tindakan perundungan, serta melapor kepada orang dewasa yang dipercaya apabila menemukan tindakan kekerasan terhadap anak.
“Kegiatan berlangsung dengan suasana penuh antusias. Para siswa tampak aktif mengikuti setiap lagu, gerakan, dan permainan yang diberikan. Pendekatan tersebut membuat materi yang tergolong serius dapat diterima dengan lebih mudah sekaligus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan,” tandasnya.
Dalam pelaksanaannya, Sophia didampingi sejumlah anggota Forum Anak Kabupaten Kudus, yakni Zahwa Salsabil H., Azki Zahra Adiliyah, Mutiara Kalonica A., Lintang Pinilih, dan Dinda Amelia. Mereka bersama-sama memandu seluruh rangkaian edukasi agar anak-anak dapat belajar sambil bermain serta berani menjadi pelopor dan pelapor dalam mencegah perundungan di lingkungan sekitarnya.(*)








