KUDUS, Kaifanews — Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha menaruh perhatian pada pengembangan museum di Kabupaten Kudus. Dua museum, yakni Museum Kretek dan Museum Purbakala Patiayam, saat ini masuk dalam program pembenahan Kementerian Kebudayaan dan ditargetkan dapat diselesaikan pada akhir tahun.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Giring mengatakan pembenahan museum tidak boleh berhenti pada perbaikan bangunan maupun tampilan fisik. Menurutnya, museum juga harus mampu menyampaikan cerita yang kuat melalui koleksi yang ditampilkan sehingga pengunjung memahami nilai dan konteks di balik benda-benda tersebut.

“Ada dua museum di Kabupaten Kudus yang sedang kita perbaiki. Terima kasih Pak Bupati kolaborasinya. Karena kalau tanpa kolaborasi dengan Pak Bupati dan juga Kepala Balai Kebudayaan Jawa Tengah, pasti tidak akan lancar,” ujar Giring usai MURI Tari Caping Kalo di pendapa Kabupaten Kudus pada Sabtu 26 September 2026.

Ia menyebut dirinya akan mengecek langsung kondisi Museum Kretek dalam kunjungannya di Kudus. Pembenahan dua museum tersebut diharapkan dapat berjalan sesuai target hingga akhir tahun.

Bagi Giring, persoalan museum bukan sekadar bagaimana membuat bangunan terlihat lebih baik. Koleksi yang dimiliki harus dipilih dan ditata berdasarkan narasi yang ingin disampaikan kepada pengunjung.

“Memperbaiki museum itu bukan hanya memperbaiki secara fisik, tapi juga kita harus cek narasinya. Karena kadang-kadang ada museum yang begitu bagus koleksinya, tapi semuanya ingin ditampilkan. Tapi ceritanya nggak ada, narasinya nggak ada,” jelasnya.

Giring mengatakan pengalaman berkeliling ke berbagai museum menjadi salah satu dasar perhatian Kementerian Kebudayaan terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, banyaknya koleksi justru perlu diikuti dengan kemampuan museum memilih benda yang paling relevan dengan cerita yang ingin dibangun.

“Pak Menteri dan saya sudah keliling begitu banyak museum. Nah, ini tantangan kita. Pelan-pelan kita perbaiki,” katanya.

Ia bahkan membuka kemungkinan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris untuk melihat langsung pengelolaan koleksi di Museum Nasional di Jakarta. Menurut Giring, museum nasional memiliki koleksi yang sangat banyak, namun tetap membutuhkan pemilihan dan penataan agar setiap koleksi memiliki hubungan dengan narasi yang disampaikan.

“Karena yang paling penting narasi,” tegasnya.

Dari Kebaya hingga Caping Kalo

Kunjungan Giring ke Kudus juga tidak lepas dari ketertarikannya terhadap kekayaan budaya daerah. Ia mengaku mulai mengenal kebaya Kudus dan Caping Kalo ketika melihat keduanya dikenakan dalam agenda budaya tingkat nasional.

“Kali ini saya melihat kebaya Kudus dipakai banyak orang sekaligus. Pertama kali saya lihat di forum nasional. Pertama kali saya lihat Caping Kalo itu di forum nasional. Saya lihat, oh ini kebaya Kudus, oh iya bagus ya,” ujarnya.

Ketertarikan tersebut kemudian berkembang setelah para pelaku budaya menyampaikan kondisi pengrajin Caping Kalo yang semakin terbatas. Dari situ, menurut Giring, muncul dorongan untuk ikut membantu pelestariannya.

Ia mengatakan pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga para maestro dan mentransfer keterampilan mereka kepada generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Giring juga mengapresiasi kolaborasi Pemkab Kudus, PT Nojorono, para artisan, seniman dan penari yang terlibat dalam pelestarian Caping Kalo.

“Kami dari Kementerian Kebudayaan sangat mengapresiasi kolaborasi yang luar biasa antara Pak Bupati dan juga perusahaan yang luar biasa, PT Nojorono, dan juga para pelaku budaya, dari mulai para artisan, seniman, penari, semua yang hari ini punya spirit yang sama, yaitu melestarikan Caping Kalo,” katanya.

Caping Kalo Didorong Jadi WBTB

Selain museum, Giring juga menyinggung proses pengajuan Caping Kalo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional.

Ia memastikan proses tersebut masih berjalan dan pihaknya telah berkoordinasi dengan tim di lapangan untuk mengawal pengajuannya.

“Sedang dalam proses. Pokoknya mohon, kita sudah koordinasi dengan tim di lapangan untuk terus mengawal,” ujarnya.

Giring menilai dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting karena proses pengajuan WBTB berjalan dari bawah ke atas. Kolaborasi antara pengrajin, pemerintah daerah dan pelaku budaya diperlukan agar pengajuan tersebut dapat berjalan.

“Karena kalau pengajuan WBTB itu tanpa support dari pemerintah daerah akan sulit. Kami dari pusat pasti akan menunggu karena sifatnya dari bawah ke atas,” jelasnya.

Ia juga menyoroti semakin sedikitnya pengrajin Caping Kalo yang masih bertahan. Kondisi itu membuat transfer keterampilan kepada generasi muda menjadi salah satu pekerjaan penting dalam pelestarian.

“Caping Kalo ini harus cepat-cepat kita jadikan Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional Indonesia, karena kita lihat bahwa pengrajinnya tinggal tiga,” katanya.

Kementerian Kebudayaan, lanjut Giring, juga memiliki sejumlah program yang dapat diarahkan untuk mendukung proses tersebut, termasuk transfer ilmu dari para maestro kepada generasi muda.

“Bagaimana proses pelestarian ini, transfer ilmu dari para maestro kepada generasi muda yang ingin maju,” ujarnya.

Giring juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kudus Sam’ani Intakoris atas dukungannya terhadap berbagai upaya pelestarian budaya di Kabupaten Kudus.

Ia berharap kolaborasi pemerintah, pelaku usaha dan komunitas budaya dapat terus berlanjut, baik untuk menjaga Caping Kalo maupun memperkuat keberadaan museum sebagai ruang yang memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Kudus kepada masyarakat. (*)