KUDUS, Kaifanews — Peringatan Hari Santri 2026 di Kecamatan Kota Kudus membawa pesan kepedulian lingkungan melalui kegiatan jalan sehat yang diikuti Banom NU bersama masyarakat. Peserta tidak hanya berolahraga dan mempererat silaturahmi, tetapi juga diajak memungut sampah di sepanjang rute perjalanan dan kembali berkumpul di Lapangan Gusjigang Qudsiyyah, Desa Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus pada Jumat, 30 Oktober 2026,

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan tersebut menjadi cara sederhana untuk menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan di tengah masyarakat. Panitia juga menyiapkan tempat sampah di sejumlah titik strategis, terutama di sekitar lokasi penukaran kupon yang berpotensi ramai oleh peserta.

Langkah itu ditujukan untuk mengantisipasi sampah makanan dan jajanan dari stan UMKM agar tidak berserakan di area lapangan. Panitia ingin peserta ikut menjaga kebersihan, bukan hanya menikmati kemeriahan acara.

Panitia kegiatan, Elok Rinjani, mengatakan penyediaan tempat sampah menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan selama kegiatan berlangsung.

“Karena kegiatan ini diikuti banyak orang, tentu ada potensi munculnya sampah selama acara. Kami berharap keberadaan tempat sampah dapat mendorong peserta untuk lebih sadar membuang sampah pada tempatnya, sehingga lingkungan tetap terjaga kebersihannya,” ungkap Elok.

Menurutnya, fasilitas tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran setiap peserta. Dengan membuang sampah pada tempatnya, masyarakat bisa ikut menjaga area kegiatan tetap bersih meskipun dipadati pengunjung.

Rute jalan sehat dimulai dari Lapangan Gusjigang Qudsiyyah, kemudian menuju Perempatan Jember dan kawasan Menara Kudus. Setelah melewati sejumlah ruas jalan tersebut, peserta kembali ke titik pemberangkatan.

Sepanjang perjalanan, peserta turut mengambil sampah yang mereka temukan. Aksi ini menjadi bagian dari pesan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan melalui tindakan sederhana tanpa harus menunggu program besar.

Sampah yang dibuang sembarangan juga berpotensi menyumbat saluran air apabila menumpuk dan terbawa aliran air. Karena itu, kebiasaan menjaga kebersihan perlu tumbuh dalam aktivitas sehari-hari, termasuk ketika masyarakat mengikuti kegiatan olahraga maupun keagamaan.

Ketua Panitia, Muhammad Tausi’ul Ilma, menegaskan bahwa peringatan Hari Santri seharusnya menghadirkan manfaat yang bisa dirasakan setelah acara berakhir. Menurutnya, nilai-nilai yang dipelajari santri perlu tercermin dalam perilaku dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Kami ingin peringatan Hari Santri tidak sebatas menjadi acara seremonial yang meriah, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi dan keteladanan. Menurut kami, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari akhlak seorang santri,” kata Muhammad Tausi’ul Ilma.

Ia mengingatkan, tanggung jawab santri tidak berhenti pada menjaga tradisi dan negeri. Kepedulian terhadap alam juga menjadi bagian penting dari pengamalan nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Tugas santri bukan hanya menjaga tradisi dan negeri, melainkan juga merawat bumi sebagai amanah dari Allah,” tegasnya.

Ia berharap pesan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat dalam peringatan Hari Santri. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan perlu terus dilakukan, baik secara pribadi maupun bersama-sama.

Pesan serupa disampaikan Fiki Akmila Dinak, peserta dari Pimpinan Ranting Langgardalem yang juga aktif dalam kegiatan kerelawanan lingkungan. Ia menilai perpaduan jalan sehat dan aksi memungut sampah memberikan nilai tambah karena peserta bisa menjaga kesehatan sekaligus berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan.

“Jalan sehat ini bukan hanya membuat tubuh lebih sehat, tetapi juga mengingatkan kita untuk ikut menjaga lingkungan. Memungut sampah mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara bersama-sama, hasilnya tentu akan memberikan dampak yang besar,” ujar Fiki.

Baginya, kegiatan bersama seperti ini dapat menjadi pengingat bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat. Perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten, termasuk saat beraktivitas di ruang publik.

Fiki juga mengajak masyarakat membangun kebiasaan memilah dan membuang sampah sesuai tempatnya serta mengurangi penggunaan plastik dalam kegiatan sehari-hari.

“Semoga kepedulian terhadap persoalan sampah tidak hanya muncul saat ada kegiatan tertentu, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan sehari-hari. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa terus diselenggarakan,” tandasnya.