KUDUS, Kaifanews — Tradisi pengantin Jawa, permainan tradisional, ritual mata air dari Ngawi, hingga tari Kecak khas Bali hadir dalam gelar karya kokurikuler SMP 1 Kudus. Melalui pentas seni antarkelas bertema Pesona Kebhinekaan Nusantara, siswa kelas VII hingga IX memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia lewat pertunjukan yang mereka rancang bersama. Kegiatan yang menjadi puncak rangkaian pembelajaran selama dua pekan ini berlangsung di SMP 1 Kudus, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepala SMP 1 Kudus, Abdul Rochim, mengatakan gelar karya tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan hasil belajar sekaligus proses kerja sama yang mereka jalani selama persiapan. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari kemegahan panggung atau penampilan.

“Kegiatan ini tidak hanya sekadar pentas satu hari. Persiapannya sudah dilakukan selama kurang lebih satu bulan dan anak-anak menunjukkan usaha yang luar biasa,” kata Rochim.

Ia menjelaskan, sekolah lebih memperhatikan keterlibatan siswa, mulai dari proses menyusun konsep, membagi tugas, hingga menyelesaikan perbedaan pendapat. Berbagai tantangan selama persiapan justru menjadi bagian penting dari pembelajaran.

“Kami tidak menilai harus bagus-bagusan atau megah-megahan. Namun, ada sesuatu yang kami lihat, yakni usaha dan upaya anak-anak yang luar biasa,” ungkapnya.

Menurut Rochim, kegiatan semacam ini memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Mereka juga berlatih bekerja dalam kelompok dan menghargai gagasan teman saat menyusun sebuah pertunjukan.

Guru subbagian kurikulum SMP 1 Kudus, Nur Hidayah, menjelaskan tema Pesona Kebhinekaan Nusantara dipilih untuk memperluas pemahaman siswa tentang budaya daerah. Mereka tidak hanya diminta mengenali pakaian adat, senjata tradisional, atau makanan khas, tetapi juga menggali tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat.

“Tahun ini lebih kepada mengenal tradisi khas dari suatu daerah. Jadi, tidak sekadar mengetahui makanan atau pakaian adatnya, tetapi juga memahami tradisi yang ada di Indonesia,” jelas Nur Hidayah.

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 19–31 Oktober 2026. Pada pekan pertama, siswa melakukan studi literatur dan berdiskusi untuk menggali informasi mengenai daerah yang menjadi tugas masing-masing kelas. Pekan berikutnya digunakan untuk berlatih, menyusun pertunjukan, serta membuat properti yang diperlukan.

Nur Hidayah menuturkan, siswa diberi keleluasaan untuk menentukan konsep penampilan sesuai tradisi yang dipelajari. Mereka juga mendiskusikan kebutuhan perlengkapan, pembagian peran, dan bahan yang bisa digunakan. Guru serta wali kelas mendampingi proses tersebut sebagai pengarah.

“Di Matematika sendiri, mereka berlatih manajerial. Berdiskusi menentukan bentuk pementasan, apa saja yang dibutuhkan, kemudian menghitung properti yang diperlukan, termasuk bajunya berapa dan dibuat dari apa supaya mencukupi,” terangnya.

Gelar karya ini menggabungkan sejumlah mata pelajaran dalam satu kegiatan. Melalui Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), siswa mempelajari kekayaan alam dan budaya Nusantara. Sementara itu, Matematika diterapkan ketika mereka menghitung kebutuhan properti, memperkirakan bahan, dan menyesuaikan anggaran pementasan.

“Dengan cara seperti ini, siswa belajar bahwa persiapan pertunjukan membutuhkan perencanaan yang matang. Mereka harus menyelaraskan ide kreatif dengan ketersediaan bahan dan kemampuan kelompok untuk mewujudkannya,” katanya.

Keterlibatan langsung dalam setiap tahap juga mendorong siswa berlatih mengambil keputusan bersama. Mereka tidak hanya menjadi penampil di atas panggung, tetapi turut bertanggung jawab terhadap konsep dan pelaksanaan pertunjukan.

Dari tradisi Jawa hingga Bali tampil di panggung

Beragam tradisi daerah mewarnai pentas seni antarkelas SMP 1 Kudus. Kelas IX H, misalnya, menghadirkan pertunjukan bertajuk Mahakarya Bumi Jawi yang mengangkat tradisi Jawa. Penampilan tersebut memadukan prosesi pengantin, permainan tradisional seperti Ceblak-Ceblak Suweng dan lompat tali, serta busana adat Kudus.

Kelas VII D memperkenalkan tradisi Keduk Beji dari Ngawi, Jawa Timur. Tradisi tersebut berkaitan dengan kegiatan membersihkan Sendang Beji, sumber mata air yang memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat setempat.

Sementara itu, kelas VIII A membawakan pertunjukan Satua Tresna Saking Dewata dari Bali. Penampilan ini memadukan tari Kecak dengan kisah Rama dan Sinta yang diiringi tokoh Anoman.

Kelas VIII D turut memperkenalkan budaya Jawa Barat melalui tari Bajidor. Ragam penampilan tersebut menunjukkan bagaimana siswa menerjemahkan hasil studi literatur menjadi pertunjukan yang dapat dinikmati sekaligus menjadi sarana mengenal budaya daerah.