Kaifanews.com – Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan mingguan terdahsyat sejak puluhan tahun terakhir akibat memanasnya konflik bersenjata di wilayah Iran, Jumat (7/3/2026).
Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur vital energi global memicu kekhawatiran akut akan kelangkaan pasokan minyak di pasar internasional. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak lebih dari 38 persen dan sempat menembus angka 92 dollar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis Brent melonjak 30 persen hingga diperdagangkan di atas level 94 dollar AS per barel.
Lumpuhnya Selat Hormuz praktis menghentikan pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang biasanya melewati jalur laut tersebut. Data terbaru menunjukkan sekitar 16 juta barel minyak kini tertahan di Teluk Persia karena kapal tanker tidak berani melintas.
Kondisi keamanan yang memburuk memaksa sejumlah negara produsen seperti Irak dan Kuwait mulai memangkas volume produksi harian mereka. Serangan terhadap infrastruktur energi di Bahrain dan Arab Saudi semakin memperparah ketidakpastian distribusi minyak di skala global.
Para analis dari JPMorgan Chase memprediksi pemangkasan produksi global bisa mencapai 4,7 juta barel per hari jika konflik berlanjut. Situasi ini memicu aksi borong atau penimbunan cadangan minyak oleh negara-negara besar seperti China untuk mengantisipasi krisis.
Meskipun beberapa lembaga keuangan seperti Goldman Sachs masih mematok proyeksi harga rata-rata di angka 80 dollar AS, risiko kenaikan tetap terbuka. Volatilitas pasar saat ini sangat tinggi karena reaksi para pelaku pasar terhadap eskalasi militer yang sangat cepat.
“Tanpa adanya penghentian cepat aktivitas militer, pasar minyak mentah bisa mulai mengalami gangguan besar dalam hitungan hari. Penutupan Hormuz selama beberapa pekan bisa mendorong harga hingga 150 dollar AS per barel,” ujar Vikas Dwivedi, Analis Macquarie.
Serangan Iran yang awalnya menyasar infrastruktur militer kini mulai bergeser ke fasilitas energi penting di kawasan Timur Tengah. Kompleks LNG di Qatar bahkan telah menyatakan status force majeure akibat gangguan operasional yang disebabkan oleh situasi keamanan.
Kapal-kapal tanker di Teluk Persia juga dilaporkan menjadi sasaran rudal dan drone yang membuat biaya asuransi pengiriman melonjak. Ancaman blokade total dari Garda Revolusi Iran menjadi faktor utama yang terus mengerek harga kontrak minyak jangka pendek.
“Pasar saat ini sangat volatil dan reaksi para trader sangat bisa dipahami melihat eskalasi konflik yang terjadi. Risiko terhadap proyeksi harga saat ini cenderung lebih besar ke arah kenaikan tajam,” tambah Daan Struyven, Kepala Riset Minyak Goldman Sachs.
Dunia kini menanti langkah diplomasi internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz demi meredam gejolak harga. Keberlanjutan konflik ini akan menjadi penentu utama apakah inflasi energi global dapat ditekan dalam waktu dekat atau justru memburuk.








