ABU DHABI – Kilang Ruwais di Uni Emirat Arab (UEA), salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di dunia, resmi menghentikan seluruh operasionalnya, Rabu (11/3/2026).
Langkah darurat ini diambil setelah serangan pesawat tanpa awak (drone) memicu kebakaran hebat di kawasan Ruwais Industrial City, Abu Dhabi. Penghentian total dilakukan demi alasan keamanan setelah saksi mata melaporkan adanya rentetan ledakan besar di area kilang.
Fasilitas milik perusahaan negara Adnoc ini merupakan kilang lokasi tunggal terbesar keempat di planet bumi. Kelumpuhan kilang tersebut terjadi di tengah eskalasi perang Iran yang kini menyasar infrastruktur energi vital di kawasan Teluk.
Pihak berwenang Abu Dhabi belum mengonfirmasi secara resmi mengenai tingkat kerusakan fisik pada unit pengolahan minyak utama tersebut. Namun, sumber internal memastikan bahwa operasional tidak akan dibuka kembali hingga situasi keamanan dinyatakan benar-benar kondusif.
CEO Aramco, Amin H. Nasser, memperingatkan bahwa gangguan pada fasilitas energi dan penutupan Selat Hormuz akan menghancurkan pasar minyak. Dampak krisis ini mulai merembet ke industri penerbangan, otomotif, hingga sektor pertanian di berbagai belahan dunia.
Selat Hormuz yang mengangkut 20 persen minyak dunia kini praktis tertutup bagi lalu lintas kapal tanker internasional. Kondisi ini memaksa sejumlah produsen energi besar seperti QatarEnergy menyatakan status force majeure atau keadaan darurat.
“Krisis kali ini merupakan yang terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan Teluk. Gangguan ini memicu reaksi berantai yang sangat parah pada sistem pelayaran dan asuransi global,” ujar Amin H. Nasser, CEO Aramco.
Teheran diduga kuat tengah berupaya melumpuhkan titik-titik ekonomi dunia dengan menyasar kilang minyak utama di negara tetangga. Serangan serupa sebelumnya juga telah menghantam fasilitas Ras Tanura di Arab Saudi yang menjadi pilar energi kerajaan.
Negara-negara di kawasan Teluk kini memperketat pertahanan udara mereka guna mencegat ratusan rudal dan drone yang meluncur. Kuwait dan Bahrain melaporkan telah menjatuhkan ratusan proyektil demi melindungi infrastruktur vital mereka dari kehancuran total.
“Sektor energi Teluk sedang dihantam dari berbagai arah secara bersamaan. Fasilitas energi menjadi target langsung sementara kapasitas penyimpanan mulai penuh karena jalur ekspor terhambat,” kata Robert Mogielnicki, Pakar Arab Gulf States Institute. (*)









