PATI, Kaifanews — Pemerintah menetapkan alokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Pati pada tahun 2026 mencapai 84,6 ribu ton. Kebijakan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan petani serta menjaga produktivitas sektor pertanian di wilayah tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kabupaten Pati, alokasi pupuk bersubsidi di wilayah tersebut terbagi menjadi empat jenis. Rinciannya meliputi 40,4 ribu ton pupuk urea, 43,5 ribu ton NPK, 34 ton pupuk organik, serta 756 ton pupuk ZA.

Alokasi pupuk subsidi tersebut mencakup beberapa jenis, seperti urea, NPK, dan pupuk organik yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing komoditas. Penetapan jumlah ini mengacu pada usulan kebutuhan petani yang dihimpun melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Alokasi pupuk subsidi di Pati tersebut diperuntukkan bagi seluruh petani yang menanam salah satu dari sembilan komoditas prioritas, yakni padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi, dan kakao.

Selain itu, petani hutan yang membudidayakan komoditas tersebut juga berhak memperoleh pupuk subsidi. Saat ini, tercatat sekitar 4 ribu hektare lahan perhutanan sosial telah mengantongi izin pengelolaan.

Meski demikian, sejumlah petani menilai jumlah tersebut belum tentu mencukupi, terutama saat musim tanam bersamaan. Keterlambatan distribusi dan keterbatasan stok di tingkat pengecer kerap menjadi kendala yang berulang setiap tahun.

Pemerintah juga terus mendorong petani untuk memanfaatkan pupuk secara bijak dan sesuai dosis anjuran. Hal ini penting agar kesuburan tanah tetap terjaga dan hasil panen bisa maksimal.

Di sisi lain, sejumlah petani menyambut baik penetapan alokasi tersebut. Mereka berharap distribusi pupuk tidak mengalami kendala seperti keterlambatan maupun kelangkaan di tingkat pengecer.

Selain memastikan ketersediaan pupuk, Pemerintah Kabupaten Pati juga berupaya meningkatkan pendampingan kepada petani melalui penyuluh pertanian. Langkah ini dilakukan untuk mendorong penggunaan pupuk yang lebih efisien serta penerapan praktik pertanian berkelanjutan.

Dengan alokasi mencapai 84,6 ribu ton pada 2026, pemerintah optimistis kebutuhan pupuk dapat terpenuhi. Namun di sisi lain, efektivitas distribusi dan ketepatan sasaran akan menjadi kunci utama untuk menjawab apakah jumlah tersebut benar-benar cukup bagi seluruh petani di Kabupaten Pati. (*)